Puluhan Masyarakat Terluka Dalam Bentrok Dengan PT TPL Di Toba

0

Puluhan Masyarakat Terluka Dalam Bentrok Dengan PT TPL Di TobaGaekon.com – Bentrok antara karyawan PT Toba Pulp Lestari (TPL) dan masyarakat sekitar terkait lahan di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatra Utara mengakibatkan puluhan masyarakat setempat mengalami luka-luka.

Salah satu warga yang menjadi korban bernama Jusman Simanjuntak (75). Jusman mengalami luka di bagian wajah dan dilarikan ke Puskesmas.

Seperti yang dilansir GAEKON dari CNN, bentrokan itu dipicu rencana pihak PT TPL yang ingin menanam eukaliptus di atas tanah adat masyarakat Natumingka.

Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tano Batak, Roganda Simanjuntak mengatakan bahwa bentrokan antara masyarakat dengan pihak PT TPL sudah lama berlangsung.

Bahkan sepanjang 2020-2021, sekitar 70 warga dilaporkan PT TPL ke polisi. Konflik lahan konsesi TPL pun terjadi di Toba, Simalungun, Taput, Humbahas.

Direktur PT Toba Pulp Lestari Tbk Jandres Silalahi mengonfirmasi aksi-aksi yang tidak diharapkan oleh sekelompok masyarakat tersebut terjadi di tengah proses dialog antara perusahaan, masyarakat, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta stakeholders lainnya. Atas terjadinya aksi tersebut, PT Toba Pulp Lestari akan terus mencari jalan keluar persoalan.

Awalnya, bentrokan tersebut bermula saat ratusan petugas keamanan dan karyawan PT TPL datang ke lahan tersebut. Mereka membawa truk penuh dengan bibit eukaliptus untuk ditanami di lahan itu. Akan tetapi, masyarakat menolak lahan itu ditanami bibit eukaliptus.

Masyarakat membantah klaim PT TPL bahwa lahan seluas 600 hektare tersebut masuk dalam konsesi PT TPL. Menurut masyarakat lahan tersebut sudah ratusan tahun mereka kelola.

“Masyarakat sudah ratusan tahun menempati lahan itu. Di sana sudah ada 13 generasi. Tapi PT TPL mengklaim itu konsesi mereka. Di wilayah adat itu PT TPL mengklaim 600 hektare sebagai wilayah konsesi,” kata Roganda.

Roganda mengatakan bahwa saat itu puluhan masyarakat tetap bertahan agar PT TPL tidak masuk. Aparat kepolisian sempat mengajak kedua pihak bermediasi. Namun saat mediasi berlangsung, terjadi provokasi. Akibatnya bentrokan tak terelakkan.

“Masyarakat diserang dengan kayu dan batu. Masyarakat langsung berlarian untuk menyelamatkan diri. Sebelumnya, masyarakat juga terlibat bentrok dengan pihak PT TPL. Karena makam leluhur masyarakat adat Natumingka di atas lahan itu dibongkar,” sebutnya.

D For GAEKON