Rawat Kebudayaan Jawa, Nadiem Ingin Aksara Jawa Harus Tetap Bertahan

0

Rawat Kebudayaan JawaGaekon.com – Pelestarian aksara Jawa harus dijaga keberlangsungannya. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Menurut Nadiem aksara merupakan unsur paling pokok dari bahasa. Sehingga penguasaan bahasa daerah sangat penting karena lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi juga berhubungan erat dengan pembangunan budi pekerti.

“Pelestarian aksara Jawa harus dipandang sebagai langkah yang mutlak harus dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan Jawa,” terang Nadiem.

Nadiem menyebut, aksara Jawa harus bertahan susah payah karena didominasi aksara latin. Kemajuan teknologi secara umum juga mengamplifikasi dominasi tersebut dan menyudutkan aksara Jawa.

Hal ini dibuktikan dengan adanya aksara latin digunakan di sebagian besar platform digital yang kita akses sehari-hari.

Menurut Nadiem pemanfaatan teknologi digital akan membuat kebuayaan lokal mampu mendapatkan pengakuan global. Oleh karena itu, strategi integrasi aksara Jawa ke platform digital harus dilakukan dengan baik.

“Inisiatif yang baik ini (Kongres Aksara Jawa) perlu didukung lebih lanjut untuk mempertimbangkan kedudukan aksara Jawa di tengah ekosistem kebahasaan dunia,” ungkapnya.

Nadiem juga mengatakan bahwa melestarikan aksara jawa sama saja dengan merawat kebudayaan Jawa yang menciptakan aneka bentuk ekspresi akan semakin memperkaya kebudayaan bangsa Indonesia.

Untuk diketahui, Kongres Aksara Jawa (KAJ) I Yogyakarta berlangsung dari 22-26 Maret 2021 secara luring dan daring yang dipusatkan di Hotel Grand Mercure Yogyakarta.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam kesempatan tersebut mengatakan, punya keinginan untuk berdiskusi dengan pegiat aksara Jawa.

Menurut Ganjar semua pihak harus bersedia berkaca sampai sejauh mana eksistensi aksara Jawa. Ganjar berharap KAJ Yogyakarta mampu memberi rumusan yang tepat, ibarat peta petunjuk jalan, bagi pengembangan aksara Jawa.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengungkapkan bahwa pihaknya ingin bahasa dan aksara Jawa tetap hidup karena dihidupi oleh penuturnya secara aktif, mampu bangkit kembali dari tidur panjangnya.

“Semoga rekomendasi kongres mampu menggugah kebangkitan dan menjadi wahana menghidupkan Bahasa dan Aksara Jawa dalam keseharian,” pesan Sri Sultan.

Tak hanya itu, KAJ diharapkan mampu menaikkan minat baca-tulis aksara Jawa. Pihaknya juga telah berupaya agar aksara Jawa lebih banyak digunakan, seperti Digitalisasi Aksara Jawa serta Aplikasi Baca-Tulis Aksara Jawa Versi 1.0 dan Versi 2.0.

Selain itu pihaknya juga menerapkan kewajiban menuliskan aksara Jawa untuk nama setiap kantor serta penggunaan busana dan bahasa Jawa di kantor-kantor pemeritahan setiap Kemis-Paing.

“Jika bahasa daerah hanya digunakan oleh penutur berusia 25 tahun ke atas dan usia yang lebih muda tidak menggunakannya, jangan disesali jika 75 tahun ke depan atau tiga generasi, bahasa itu akan terancam punah,” terang Sri Sultan.

Berdasarkan data Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), Sultan menyebutkan, dari 718 bahasa daerah di Indonesia, 169 terancam punah.

Hal ini dikarenakan jumlah penuturnya kurang dari 500 orang. Agar bisa bertahan, bahasa harus digunakan minimal 10 ribu orang untuk memastikan transmisi antargenerasi.

D For GAEKON