Ribuan Warga Jember Nekad Shalat Id

0

Gaekon.com – Ribuan warga di Jember memilih melaksanakan Shalat Id lebih awal, yaitu pada Sabtu (23/5). Sayangnya, pelaksanaan shalat digelar tanpa mengindahkan protokol kesehatan di tengah pandemi wabah Corona.

Shalat berjamaah itu digelar di lingkungan masjid Pondok Pesantren (Ponpes) Mahfilud Duror di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk. Yang bertindak sebagai Imam dan Khatib adalah Pengasuh Ponpes Mahfilud Duror, KH Ali Wafa.

Dikonfirmasi GAEKON usai shalat Id, KH Ali Wafa mengaku sebelumnya sudah meminta masyarakat shalat Id di rumah masing-masing. Namun masyarakat menolak dengan alasan tidak tahu tata cara pelaksanaan shalat Id di rumah bersama keluarga.

“Ini bapak-bapak dan ibu-ibu (sudah disarankan) untuk shalat Id di rumah. Lah iya kalau tahu (cara) mengimami pak kiai. Jangankan mengimami, baca khotbahnya saja tidak tahu’,” kata pria yang karib disapa Lora Ali ini menirukan jawaban jemaahnya.

Lora Ali juga telah mengimbau jemaahnya agar memakai masker. Namun sebagian besar tetap tak memakainya.

“Sudah saya sampaikan, bahkan juga sudah disosialisasikan kepada jemaah saya, untuk memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, bahkan saya siapkan (bilik) disinfektan, tapi mereka tidak mau memakai masker,” ucapnya.

Lora Ali menyampaikan, jemaah banyak yang mengaku tak punya masker. Bahkan mereka balik menjawab, seharusnya pemerintah menyiapkan masker di lokasi shalat.

“Kalau pemerintah ngeman (perhatian) dengan masyarakatnya, kan tidak punya masker, ya (pemerintah) nyiapkan masker. Itu yang dikatakan waktu saya minta mereka pakai masker,” sambungnya.

Lora Ali pun akhirnya mengaku tak bisa berbuat apa-apa. Sebab semua imbauan sudah dilakukan. Bahkan juga mengenai menjaga jarak antar jemaah juga tak dilakukan.

“Dan yang datang kan ribuan ya, bukan hanya dari Jember, tapi juga ada yang dari Bondowoso dan kota lain,” ujarnya.

Saat ditanya GAEKON mengapa menentukan Idul Fitri lebih awal, Lora Ali mengatakan ponpesnya memiliki penghitungan sendiri. Baik itu mengenai awal Ramadan mau pun awal bulan Syawal

“Dasarnya adalah kitab Nuzhatu Al Majaalis Wa Muntakhobu Al Nafaais, yang sudah turun temurun dipegang oleh kiai dan Pengasuh Ponpes Mahfilud Duror,” katanya.

“Bahwa prinsipnya lima hari dari awal Ramadan tahun sebelumnya, menjadi awal bulan Ramadhan tahun berikutnya,” sambung Lora Ali.

W For GAEKON