RIP Rupiah, IHSG dan Harga Emas, Awal Resesi?

0

Nilai tukar rupiah kembali keok melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (23/3), semakin mendekati level terlemah sepanjang sejarah Rp 16.800/US$.

Pada perdagangan di sesi pemukaan, rupiah langsung melemah 0,31% di Rp 15.950/US$, dan berselang satu jam kemudian sudah terpuruk semakin dalam. Rupiah akhirnya menyentuh level 16.550/US$, atau merosot 4,09% di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Gejala bahwa akan kembali terjadi aksi jual di pasar keuangan dalam negeri sudah terlihat sejak dini hari tadi. Indeks saham berjangka (futures) Wall Street langsung ambles 5% menyentuh “batas bawah” atau “limit down” dari 5 menit setelah perdagangan di bulan pukul 05:00 WIB.

Indeks berjangka Wall Street dapat dijadikan indikator sentimen konsumen terhadap aset-aset berisiko. Ketika ambles, itu artinya sentimen sedang memburuk dan berisiko memicu aksi jual di pasar keuangan dalam negeri, baik di bursa saham maupun pasar obligasi.

Terjadinya pandemi virus corona (COVID-19) di dalam negeri telah membuat aksi jual di pasar keuangan RI semakin menjadi-jadi di bulan ini,. Di Indonesia sendiri hingga saat ini tercatat ada 514 kasus positif, dengan 48 orang meninggal dan 29 orang dilaporkan sembuh.

Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan lebih dari 25%. Pekan lalu saja, penurunan tercatat 14,52%, dimana menjadi penurunan terburuk sejak krisis finansial global tahun 2008. Kala itu, pada bulan Oktober 2008, IHSG ambrol lebih dari 20% dalam sepekan.

Berdasarkan data dari RTI, investor asing melakukan aksi jual bersih secara year-to-date (YTD) hingga Jumat pekan lalu sebesar Rp 10,25 triliun.

Di pasar obligasi, yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun naik 121 basis poin (bps) sepanjang bulan ini hingga Jumat lalu. Kenaikan masih berlanjut hingga siang sebesar 4,3 bps ke 8,142%, yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2019.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti harga sedang turun.

Ketika harga turun, berarti sedang ada aksi jual di pasar obligasi. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sepanjang tahun ini hingga 18 Maret, terjadi capital outflow sebesar Rp 86,49 triliun.

Pantauan GAEKON, hampir semua instrumen investasi hari ini mengalami tekanan jual. Para pemilik modal tampaknya khawatir ekonomi dunia sudah berada di ambang resesi karena dampak penyebaran virus corona atau COVID-19 yang membuat aktivitas ekonomi terganggu.

Di pasar saham domestik, tekanan jual sudah terasa di awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHGS) sempat terperosok lebih dari 4%, meskipun pada sesi I ditutup terkoreksi 3,8% ke level 4.034,1 atau kehilangan 160,84 poin.

Koreksi dalam IHSG tersebut bersamaan dengan kejatuhan bursa-bursa saham di Asia, di mana Hang Seng di Bursa Hong Kong terkoreksi 3,75%, bursa Shanghai drop 1,6% dan bursa Singapura turun 7,3%.

Investasi di emas yang selama ini dianggap sebagai salah satu safe haven, di kala krisis juga mulai dihindari. Harga emas ikut diobral dan terus mengalami koreksi sejak pekan lalu.

Harga emas di pasar spot kembali melemah pada awal pekan ini. Walaupun bank sentral global berbondong-bondong melonggarkan kebijakan moneternya, pasar masih belum tenang dan membuat logam mulia pun ikut terkena tekanan jual.

Pada Senin (23/3), harga emas di pasar spot melorot 0,32% ke level US$ 1.491/troy ons. Posisi emas saat ini menandai level terendah sejak 24 Desember 2019. Sejak menyentuh level tertingginya dalam tujuh tahun pada 9 Maret lalu, harga emas seolah terjun bebas.

Hingga hari ini, harga emas telah anjlok 11,25% dari level tertingginya sejak 9 Maret. Pandemi yang diakibatkan oleh virus corona (COVID-19) menjadi biang kerok aksi jual besar-besaran logam mulia ini.

Investor sebagian besar menjual emas untuk mendapatkan uang tunai untuk menutupi kerugian di tempat lain.

“Emas terus dilikuidasi secara agresif sebagai bentuk rebalancing dan untuk menutup margin call, hal ini mengakibatkan emas mengalami penurunan mingguan terbesar sejak 1983,” tulis ahli strategi komoditas TD Securities, melansir Kitco.

W For GAEKON