Situbondo – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Situbondo kini bisa tersenyum lega. Sebagai pengelola Rumah Potong Hewan (RPH), DPKH Situbondo telah menjawab keresahan warga. Bukan hanya dengan mengurangi pencemaran udara, tetapi ‘menyulap’ limbah RPH menjadi bahan yang bisa bermanfaat untuk warga.

Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Situbondo kini ‘disulap’ menjadi bahan yang tak hanya bermanfaat, tapi juga bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Selain dikelola menjadi pupuk organik, limbah dari perut ternak sapi potong itu juga dijadikan biogas. Seperti di RPH di Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan

Ke depannya nanti, mereka akan menyalurkan biogas itu ke permukiman warga. Apalagi kalau bukan untuk membantu warga sekitar.”Apalagi sekarang sudah ada rencana harga gas elpiji akan naik. Tentu, distribusi biogas akan sangat membantu warga sekitar RPH ini,” kata Kepala DPKH Situbondo, drh Hasanuddin Riwansia kepada GAEKON, Rabu (12/2).

Untuk kepentingan tersebut, memang dibutuhkan penambahan kapasitas pengelolaan limbah. Khususnya untuk kapasitas tandon digester, sebagai alat untuk memproduksi biogas. Sekarang ini, tandon digester hanya memiliki daya tampung 3-4 meter kubik. Padahal, yang dibutuhkan mencapai 40 meter kubik.

“Kalau digester sudah 40 meter kubik insyaallah sudah kelar. Kami bisa menyuplai biogas ke permukiman untuk membantu warga,” tandas drh Udin didampingi Ir Sulistiyani, Kabid Keswan dan Mavet DPKH Situbondo.

Tak hanya digester saja. Seluruh tahapan pengelolaan limbah RPH itu juga memerlukan penambahan kapasitas. Mulai dari sumur pengadukan, inlet, hingga outlet. Sebab, kapasitas yang ada saat ini belum mampu menampung limbah isi perut sapi yang dipotong setiap harinya di RPH Desa Sumberkolak.

“Setiap hari masih ada yang dibuang. Makanya, kami sedang berusaha segera ada penambahan kapasitas. Supaya pengelolaan limbah ini jadi lebih optimal, baik untuk produksi pupuk organik maupun biogas. Insyaallah pengelolaan limbah RPH ini yang pertama di Jawa Timur, atau bahkan di Indonesia,” paparnya.

Selain mengelola limbah yang masuk ke penampungan, DPKH Situbondo juga menaruh perhatian terhadap sisa limbah yang banyak berserakan di selokan-selokan dalam lingkungan RPH. DPKH sengaja menebar sekitar 10.000 benih bibit ikan lele di selokan tersebut.

Sejak itulah, selokan di lingkungan RPH menjadi bersih dan airnya berubah agak bening. Padahal, sebelumnya selokan tersebut terkesan kumuh, kotor, dan cukup bau. Bahkan, sampai dipenuhi lalat dan jentik dikarenakan banyak sisa limbah yang meluber dan jatuh ke selokan. Baik sisa darah, kotoran, serpihan daging, dan sebagainya. “Sejak ditebar lele semua sudah berubah. Limbah itu menjadi pakan alami lele, sehingga tidak perlu dibersihkan lagi. Alhamdulillah, sekarang sudah bersih dan tidak bau lagi,” pungkas drh Udin.

Pengamatan GAEKON di lapangan, pengelolaan limbah di RPH desa itu melalui sejumlah tahapan. Limbah perut berupa kotoran dan isi rumen sapi yang dipotong dimasukkan dalam sumur pengadukan material.

Dengan sedikit campuran air putih, limbah itu diaduk hingga agak halus. Ketika mulai halus limbah kemudian dengan sendirinya masuk ke dalam penampungan inlet, lalu ke tandon digester.

Selama di dalam digester inilah, limbah itu akan terus menerus mengeluarkan biogas. Lumpur dari biogas ini yang kemudian keluar bertahap melalui tiga tandon outlet yang disiapkan. Pada outlet terakhir, lumpur limbah ini akan diangkat dan dijemur hingga kering dan menjadi pupuk organik.

Tahap penjemuran ini memerlukan waktu yang agak lama, karena tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Hanya diangin-anginkan saja. Proses ini dapat memakan waktu hungga berhari-hari.

Berikutnya, pupuk organik yang telah kering itu disaring melalui alat pengayak. Nah, pupuk organik hasil penyaringan inilah yang kemudian dimasukkan dalam plastik kemasan untuk dipasarkan. Harganya pun cukup murah. Untuk satu kemasan berisi 5 kg, harga jualnya hanya Rp 5 ribu.

Baca juga : Dinas Peternakan Jatim Turunkan Tim Selidiki Kasus Sapi Mati Mendadak di Situbondo

W For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here