Saksi KPK Dalam Kasus Edhy Prabowo Meninggal Dunia

0

Saksi KPK Dalam Kasus Edhy Prabowo Meninggal DuniaGaekon.com – KPK telah mencegah empat orang saksi untuk ke luar negeri terkait penyidikan kasus dugaan suap izin ekspor benih lobster yang menjerat Edhy Prabowo. Pencegahan itu dilakukan agar keempat orang tersebut berada di Indonesia ketika dibutuhkan pemeriksaan oleh penyidik.

Menurut informasi yang dilansir dari Kumparan, ternyata salah satu saksi dikabarkan meninggal dunia. Saksi tersebut adalah Direktur PT Perishable Logistics Indonesia (PLI) Deden Deni. Belum diketahui soal penyebab meninggalnya Deden.

“Informasi yang kami terima, yang bersangkutan meninggal sekitar tanggal 31 Desember (2020) yang lalu,” kata plt juru bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (4/1).

Sebelumnya, Deden dicegah ke luar negeri bersama dengan tiga orang lainnya. Mereka adalah istri Edhy Prabowo bernama Iis Rosyita Dewi; dan dua orang swasta bernama Neti Herawati dan Dipo Tjahjo P. Adapun pencekalan sudah dilakukan pada 4 Desember 2020 dengan durasi selama 6 bulan.

Walaupun Deden yang merupakan saksi meninggal dunia, Ali menyatakan bahwa penyidikan di perkara ini tidak akan terhenti.

“Proses penyidikan perkara tersangka EP (Edhy Prabowo) dan kawan-kawan tidak terganggu, sejauh ini masih berjalan dan tentu masih banyak saksi dan alat bukti lain yang memperkuat pembuktian rangkaian perbuatan dugaan korupsi para tersangka tersebut,” ucapnya.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan 7 tersangka. Sebagai tersangka penerima suap adalah eks Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo; Eks Staf Khusus Menteri KP, Safri; Eks Staf Khusus Menteri KP, Andreau Pribadi Misanta; Pengurus PT Aero Citra Kargo, Siswadi; Staf istri Menteri KP, Ainul Faqih; dan Amiril Mukminin.
Sementara, tersangka pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa, Suharjito.

Sementara itu, Edhy Prabowo diduga melalui staf khususnya mengarahkan para calon eksportir untuk menggunakan PT Aero Citra Kargo bila ingin melakukan ekspor. Salah satu adalah perusahaan yang dipimpin Suharjito.

Diduga PT Aero Citra Kargo merupakan satu-satunya forwarder ekspor benih lobster yang sudah disepakati dan direstui Edhy Prabowo. Para calon eksportir kemudian diduga menyetor sejumlah uang ke rekening perusahaan itu agar mendapatkan izin ekspor.

Kemudian, uang yang terkumpul diduga digunakan untuk kepentingan Edhy Prabowo, salah satunya untuk keperluan belanja barang mewah saat berada di Hawaii, Amerika Serikat.

Selain itu, Ia diduga menerima uang Rp 3,4 miliar melalui kartu ATM yang dipegang staf istrinya. Tidak hanya itu saja, diduga ia juga pernah menerima USD 100 ribu yang diduga terkait suap. Adapun total uang dalam rekening yang diduga penampung suap Edhy Prabowo mencapai Rp 9,8 miliar. Pihak KPK juga telah menyita 5 mobil, uang senilai Rp 16 miliar dan 9 sepeda dari penyidikan kasus ini.

Z For GAEKON