SEDOTAN PURUN TEMBUS PASAR INTERNASIONAL

0
SEDOTAN PURUN TEMBUS PASAR INTERNASIONAL

Kalimantan – Menumpuknya sampah plastik yang ditemukan di darat hingga di lautan semakin mengkhawatirkan bumi. Hal tersebut berdampak negatif bagi lingkungan sekitar. Salah satu wujud penyelamatan lingkungan akibat sampah plastik yaitu dengan gerakan mengurangi penggunaan plastik.

Salah satu upayanya adalah menggunakan bahan yang ramah lingkungan sebagai ganti plastik. Seperti halnya yang dilakukan pengrajin asal Kalimantan, Supian Nor, ia membuat sedotan dari bahan alami yakni eceng gondok dan purun atau tumbuhan rawa. Warga asal Desa Banyu Hirang, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Provinsi Kalimantan Selatan yang merupakan seorang perngrajin dan kini menjadi produsen sedotan purun.

Sedotan purun adalah sedotan yang terbuat dari bahan alami berupa eceng gondok dan purun yang memiliki nama latin Lepironia Articulata sebagai pengganti sedotan plastik yang biasa digunakan.

Awal mula sedotan ini dikenal masyarakat adalah melalui Tran Minh seorang pria asal Vietnam pada awal tahun lalu.

Supian pun sebagai seorang yang telah berkecimpung di bidang kerajinan selama sepuluh tahun membuat sedotan purun tersebut dan memproduksi 100.000 batang sedotan dalam waktu dua bulan.

Selain berdampak baik pada lingkungan karena terbuat dari bahan yang ramah lingkungan, sedotan purun buatan Supian juga kini sudah melanggeng ke pasar internasional. Untuk diketahui, Supian mendapat pesanan sebanyak 100.000 batang sedotan purun setiap bulannya dari Belanda.

Namun, karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Supian, akhirnya Supian menyalurkan pesanan ke Belanda melalui pihak ke tiga di Bali dan baru dikirimkan ke Belanda. Kini Supian pun berusaha meningkatkan produktifitasnya dalam pembuatan sedotan purun dan kerajinan-kerajinan pesanan lainnya.

Cara membuat sedotan purun harus dengan langkah yang hati-hati dan teliti yakni dimulai dengan memilih purun yang akan digunakan sebagai sedotan, kemudian dibersihkan dengan menggunakan selang yang bertekanan tinggi.

Selanjutnya, purun dicuci hingga bersih menggunakan sabun. Setelah sudah dibersihkan kemudian purun dipotong. Pemotongan purun juga dilakukan satu persatu menggunakan pisau silet agar hasil irisan rapi dan tidak pecah.

Tahap selanjutnya dilakukan pelubangan di bagian dalam. Setelah semuanya selesai, tahapan akhir adalah membilas sedotan purun dan disterilisasi, diakhiri dengan pengeringan.

Guna menambah aroma alami pada sedotan purun, biasanya ditambahkan sereh wangi supaya ketika sedotan digunakan tidak tercium aroma rawa karena purun adalah salah satu tumbuhan rawa.

Sebelumnya, menjawab keluhan banyak pihak mengenai bahaya sampah plastik, Pemkab HSU bekerjasama dengan warga mencoba memikirkan persoalan ini. Yakni membuat kerajinan terbuat dari gulma yang tumbuh di rawa.

Hingga kemudian, Supian Nor menemukan solusinya. Supian Nor membentuk kelompok kerajinan “Kembang Ilung” yang mengubah purun menjadi barang berharga.

Eksistensi kelompok kerajinan “Kembang ilung” dalam menyulap gulma menjadi bahan berharga membuat nama kelompok ini dikenal orang. Hingga seorang pengusaha di Bali, tertarik dengan karya sedotan organik pengganti sedotan air minum plastik yang mereka bikin.

Konon perusahaan di Bali tersebut sudah memiliki kontak dengan perusahaan di Eropa mengenai keinginan mengubah kebiasaan masyarakat dengan mengganti sedotan plastik dengan sedotan ramah lingkungan.

Sedotan plastik yang sekarang sering digunakan sekali pakai terus dibuang hingga mencemari lingkungan. Apalagi plastik dinilai tidak mudah terurai hingga sangat berbahaya bagi kelestarian lingkungan.

Atas kenyataan itulah, para perajin yang tergabung dalam kelompok usaha “Kembang Ilung”, Desa Banyu Hirang, mencoba memproduksi ribuan batang sedotan non plastik yang terbuat dari tanaman purun (tumbuhan rawa) guna memenuhi permintaan dari negeri Belanda.

Supian yang saat ini menjadi ketua kelompok usaha Kembang Ilung, mengakui para perajin asuhannya mengolah tanaman purun menjadi sedotan air ramah lingkungan sesuai permintaan luar negeri.

“Kami memperoleh pesanan dari negeri Belanda sebanyak 200 ribu batang per bulan, melalui pengusaha yang ada di Bali,” kata Supian Nor seraya memperlihatkan bungkusan atau kemasan sedotan yang siap dikirim tersebut.

Hanya saja, tambah lelaki setengah baya tersebut, pihak pengrajin sulit memenuhi permintaan tersebut. Lantaran paling banyak dalam sebulan mampu memproduksi 100 ribu batang, karena keterbatasan tenaga dan teknologi.

Karena dalam pembuatan sedotan tersebut harus sesuai bentuknya seperti yang diinginkan pembeli, seperti panjangnya, tidak cacat, lubangnya bulat, dan kering, serta bersih.

Alasan digunakannya purun sebagai bahan alternatif dalam pembuatan sedotan ramah lingkungan yakni karena purun memiliki banyak kelebihan.

Kelebihan tersebut antara lain tentunya dapat mengurangi jumlah sampah plastik dan meningkatkan kesadaran masyarkat terhadap isu lingkungan. Namun, salah satu kelebihan yang menonjol dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar adalah produksi sedotan purun dapat menigkatakan ekonomi lahan basah dan diharapkan dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan di wilayah lahan rawa dan gambut.

Kreativitas perajin Banyu Hirang Amuntai ini sudah banyak menginspirasi perajin lainnya di Kalsel, yang juga memiliki lahan luas tanaman purun.

Bahkan ketika kegiatan perajin “Kembang Ilung” ini di share ke media sosial memperoleh banyak respon. Ada yang ingin membeli untuk memulai penggunaan sedotan terbuat dari purun ini menggantikan plastik di wilayah Kalsel sendiri.

“Kenapa kita saja yang memulai menggunakan sedotan non plastik ini, agar semua masyarakat sadar akan arti kelestarian lingkungan,” kata Samsuri Sarman pengguna FB.

Ada pula pengguna medsos yang menawarkan diri membina perajin lainnya untuk memproduksi sedotan tersebut lebih banyak lagi, guna memenuhi permintaan pasar luar negeri.

“Ini menguntungkan segi lingkungan dan menguntungkan sisi ekonomi,” kata pengguna FB yang lain.

Pecinta lingkungan yang juga Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Banjarmasin, Mohammad Ary sangat mengapresiasi kreatifitas mengubah barang tak berguna menjadi berharga. Seperti tanaman purun itu, selain memberikan kesejahteraan warga sekaligus menjadi pelopor pelestarian lingkungan.

KL For GAEKON