Pramoedya Ananta Toer telah dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Berikut biografi sang novelis yang biasa dipanggil Pram ini.

Baca juga : Teladan Jalan Hidup Istiqomah KH Maimun Zubair

Pramoedya dilahirkan di Blora pada tahun 1925 di jantung Pulau Jawa, sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama aslinya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.

Dia lalu menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya, karena nama “Mastoer” dianggapnya aristokratik. Pramoedya lalu menempuh pendidikan di Surabaya melalui Sekolah Kejuruan Radio, dan sempat bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama masa penjajahan Jepang di Indonesia.

Pasca 17 Agustus 1945, Ia sempat dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia.

Terjadi friksi antara Pramoedya dan pemerintahan Soekarno, dikarenakan karyanya yang berjudul Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi.

Selama masa itu, ia mulai mempelajari penyiksaan terhadap Tionghoa Indonesia, kemudian ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Pram secara khusus pernah menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul Hoakiau di Indonesia.

Ia merupakan kritikus yang tak peduli atas pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa.

Pada periode 60-an ia ditahan oleh pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya. Bukunya dilarang dari peredaran, dan ia harus dipenjara tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, hingga berakhir di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Walaupun dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun dari sanalah serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia dibuat, 4 seri novel semi-fiksi sejarah Indonesia yang menceritakan perkembangan nasionalisme Indonesia dan sebagian berasal dari pengalamannya sendiri saat tumbuh dewasa.

Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat Gerakan 30 September, tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pada 12 Januari 2006, ia telah dua minggu terbaring sakit di rumahnya di Bojong Gede, Bogor, dan dirawat di rumah sakit. Menurut laporan, Pramoedya menderita diabetes, sesak napas dan jantungnya melemah.

Pada 27 April 2006, Pram sempat tak sadar diri. Pram hanya bertahan tiga hari di rumah sakit. Sabtu 29 April, sekitar pukul 19.00, begitu sampai di rumahnya, kondisinya jauh lebih baik.

Setelah itu, beberapa kali dia kembali mengalami masa kritis. Pihak keluarga pun memutuskan menggelar tahlilan untuk mendoakan Pram. Pasang surut kondisi Pram tersebut terus berlangsung hingga suatu saat itu, dia menyatakan agar Tuhan segera menjemputnya. “Dorong saja saya,” ujarnya.

Pada 30 April 2006 pukul 08.55 Pramoedya wafat dalam usia 81 tahun.

W For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here