Sempat Molor, Cukai Rokok Resmi Naik 12,5 Persen Mulai Hari Ini

0

Sempat Molor, Cukai Rokok Resmi Naik 12,5 Persen Mulai Hari IniGaekon.com – Kenaikan tarif cukai rokok yang sempat molor itu akhirnya terealisasi. Mulai hari ini, cukai rokok resmi naik 12,5 persen. Menteri Keuangan, Sri Mulyani telah menetapkan kenaikan tersebut sejak Desember tahun lalu.

“Kebijakan cukai hasil tembakau yang saya sampaikan akan berlaku efektif Februari 2021,” kata Sri Mulyani saat konferensi pers secara virtual, 10 Desember 2020.

Daftar Kenaikan Tarif Cukai Rokok di 2021

Sigaret Putih Mesin (SPM)

Golongan I naik 18,4 persen, tarif cukainya jadi Rp 935 per batang

Golongan IIA naik 16,5 persen, tarif cukainya jadi Rp 565 per batang

Golongan IIB naik 18,1 persen, tarif cukainya jadi Rp 555 per batang

Sigaret Kretek Mesin (SKM)

Golongan I naik 16,9 persen, tarif cukainya jadi Rp 865 per batang

Golongan IIA naik 13,8 persen, tarif cukainya jadi Rp 535 per batang

Golongan IIB naik 15,4 persen, tarif cukainya jadi Rp 525 per batang

Sigaret Kretek Tangan (SKT) tidak mengalami kenaikan tarif

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kumparan, Kenaikan tarif cukai rokok yang terus menerus molor itu dikarenakan adanya penolakan dari kalangan industri rokok hingga petani tembakau.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), Henry Najoan, pemerintah harus memperhatikan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai dalam penyusunan rencana kebijakan cukai hasil tembakau di 2021.

Dalam Pasal 5 Ayat (4) UU tentang Cukai disebutkan, dalam membuat alternatif kebijakan mengoptimalkan target penerimaan, menteri yang bersangkutan harus memperhatikan kondisi industri dan aspirasi pelaku usaha industri.

Henry sangat menyayangkan pernyataan Sri Mulyani yang tidak memasukkan unsur pelaku usaha atau industri dalam lima pertimbangan pemerintah untuk kenaikan cukai rokok.

“Lima dimensi yang dikemukakan Bu Sri Mulyani tidak menyebutkan pelaku industri sebagai dimensi penting dalam rencana membuat kebijakan cukai hasil tembakau 2021,” ujar Henry.

Henry juga mengatakan bahwa kenaikan cukai rokok yang terlalu tinggi itu dinilai tidak tepat di tengah pelemahan kinerja industri rokok tahun ini. Ia pun meminta kenaikan cukai rokok mesin hanya satu digit, yakni maksimal 5 persen. Sementara untuk rokok golongan kretek tangan tidak dinaikan.

“Kenaikan tarif cukai hasil tembakau 2020 yang sangat tinggi dan pelemahan daya beli akibat pandemi Covid-19 salah satu berdampak pada sektor industri,” terangnya.

D For GAEKON