Setelah Habisi Pacarnya Perwira Polisi Gay Nekat Bunuh Diri

0

Setelah Habisi Pacarnya Perwira Polisi Gay Nekat Bunuh DiriGaekon.com – Akhrinya seorang perwira polisi homoseksual memilih untuk bunuh diri setelah ia membunuh pacarnya sendiri yang merupakan seorang lelaki. Polisi gay itu merasa tidak senang lantaran pacarnya ingin menikah dengan seorang perempuan.

Akhirnya, polisi gay itu merasa cemburu. Kabarnya, polisi homoseksual tersebut lulusan Sekolah Polisi Negara atau Akademi Kepolisian (Akpol). Namun, kejadian pembunuhan itu ternyata terjadi 5 tahun lalu.

Dilansir dari Jakarta.suara.com, Hal tersebut dibongkar oleh Indonesia Police Watch atau IPW setelah terbongkarnya ada jenderal homoseksual di kepolisian Indonesia. Sedangkan menurut Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menyatakan bertahun-tahun lalu sudah terbongkar kasus LGBT antaranggota Polri.

“Bagaimana pun kasus seperti ini tidak boleh terulang lagi di tubuh Polri,” jelasnya dalam pernyataan persnya.

Bahkan, Indonesia Police Watch pun menyoroti eksistensi kelompok LGBT di tubuh Polri. Malahan ada jenderal bintang satu Brigjen EP masuk dalam kelompok orientasi seksual yang dianggap menyimpang tersebut.

Mengenai hal tersebut, pihak IPW menduga adanya sistem di Polri yang lengah. Namun, dikarenakan Kapolri Jenderal Idham Azis bertindak tegas dengan menindak semua anggota Polri yang masuk dalam LGBT.

Disisi lain, Neta S Pane meminta agar Polri tak puas dengan memberi sanksi jenderal bintang satu itu. Apalagi sebelumnya Brigjen EP telah menduduki jabatan di Divisi SDM Polri. Menurut Neta, munculnya LGBT di lingkungan Polri mengundang pertanyaan bagaimana bisa, seorang anggota yang berorientasi LGBT lolos dari seleksi dan rekrutmen Polri. Ia menilai kasus LGBT ini dapat menunjukkan adanya kelengahan dalam sistem rekrutmen Polri.

“Munculnya LGBT di Polri diduga akibat lengahnya sistem rekrutmen di kepolisian serta adanya pembiaran LGBT di lingkungan kepolisian,” ujar Neta.

Ia pun mengaku heran, jelas-jelas LGBT sudah terlarang di lingkungan Polri. Bahwasannya Polri telah memiliki aturan yang melarang LGBT yakni sesuai aturan yang tertuang di Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri. Dirinya pun mengingatkan agar Polri untuk segera bersih-bersih LGBT pada anggotanya.

Sementara itu, Polri mewajibkan Brigjen EP untuk mengikuti pembinaan mental hingga keagamaan selama satu bulan. Kewajiban tersebut diberikan usai Brigjen EP dinyatakan melanggar ketentuan karena bergabung dalam kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender atau LGBT.

Sedangkan menurut Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono mengatakan keputusan itu berdasar keputusan sidang etik yang dilakukan oleh Komisi Kode Etik Profesi Polri atau KKEP pada 31 Januari 2020.

“Kewajiban pelanggar untuk mengikuti pembinaan mental kepribadian, kejiwaan, keagamaan, dan pengetahuan profesi selama satu bulan,” kata Awi di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2020).

Selain itu, Brigjen EP juga diwajibkan untuk meminta maaf secara lisan kepada pimpinan dan pihak-pihak yang merasa dirugikan atas perbuatannya. Disamping sanksi lainnya yakni berupa demosi selama tiga tahun.

“Kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara lisan kepada di depan sidang KKEP dan atau kepada pimpinan polri dan pihak-pihak yang dirugikan,” ujar Awi.

Awi sebelumnya telah menyatakan bahwa Polri akan menindak tegas apabila ada anggotanya yang terbukti tergabung dalam kelompok LGBT. Tindakan tegas akan diberikan sebagaimana aturan yang berlaku.

Dia menjelaskan dalam Peraturan Kapolri atau Perkap Nomor 14 Tahun 2011 tentang Kode Etik Profesi Polri sebagaimana Pasal 11 huruf c, dikatakan setiap anggota Polri wajib menaati dan menghormati norma kesusilaan, norma agama, nilai-nilai kearifan lokal, dan norma hukum.

“Jadi, kalau terjadi hal tersebut tentunya Polri akan tindak tegas karena memang sudah ada aturan hukumnya bagi yang melanggar tentunya sanksi kode etik sudah menunggu,” kata Awi di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (16/10).

Namun, pada saat itu Awi mengklaim bahwa pihaknya belum menerima laporan mengenai adanya anggota Polri yang tergabung dalam kelompok LGBT.

“Nanti kami tanyakan perkembangannya ke Propam,” kata dia.

Mengenai Isu adanya kelompok LGBT di institusi TNI-Polri sebelumnya diungkapkan oleh Ketua Kamar Militer Mahkamah Agung Mayor Jenderal (Purn) Burhan Dahlan. Dirinya mengaku mengetahui hal itu dari diskusi di Markas Besar TNI Angkatan Darat. Burhan pada saat itu diberi informasi soal adanya fenomena LGBT di lingkungan tersebut.

Burhan menyampaikan hal tersebut dalam sebuah acara bertajuk Pembinaan Teknis dan Administrasi Yudisial Pada Empat Lingkungan Peradilan Seluruh Indonesia yang disiarkan melalui akun YouTube Mahkamah Agung RI, 12 Oktober 2020.

“Agak unik yang disampaikan mereka kepada saya yakni masalah mencermati perkembangan LGBT di lingkungan TNI,” kata Burhan.

Lantas ia mengemukakan bahwa isu LGBT itu tidak hanya ada di tubuh institusi TNI. Menurutnya isu tersebut juga menyasar ke institusi Polri.

“Ternyata mereka menyampaikan kepada saya sudah ada kelompok-kelompok baru, kelompok persatuan LGBT TNI-Polri,” ungkapnya.

Burhan menuturkan, kelompok LGBT TNI-Polri itu dipimpin oleh anggota berpangkat sersan. Sementara anggotanya, ada yang berpangkat letnal kolonel.

“Ini unik. Tapi memang ini kenyataan,” katanya.

Selain itu ia menyebut bahwa fenomena penyuka sesama jenis bukanlah sesuatu hal baru. Sebab, dirinya juga pernah menjalankan sidang kasus LGBT di lingkungan TNI pada 2008.

Z For GAEKON