Megaproyek Blok Masela terus menunjukkan perkembangannya. Meski pernah dijadikan kabar miring karena dikatakan sebagai proyek “mangkrak” selama 20 tahun lalu, kini proyek pengilangan minyak dan gas bumi ini sedang memasuki tahap persiapan penyusunan desain dan rekayasa teknik proyek yang bernilai Rp 280 triliun itu. Sementara itu, para kontraktor tertarik dengan  kedatangan seorang pengusaha pemilih Grup Artha Graha, Tomy Winata, yang menawarkan pelabuhannya di Tual untuk dijadikan fasilitas penampungan pasokan logistik. Selain itu, tawaran ini juga didukung oleh pejabat daerah karena rencana baru ini dianggap berpotensi membuat biaya makin membengkak.

         Perkembangan terakhir memberitakan bahwa Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Inpex Corporation kini masih membahas mengenai proposal pengembangan (Plan of Development/ PoD) Blok Masela. Namun, hingga kini kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan mengenai target keekonomian proyek tersebut. 

            Keberadaan basis logistik lazim dalam pekerjaan konstruksi. Kontraktor membutuhkannya sebagai tempat untuk menampung berbagai material hingga kru proyek. Namun munculnya opsi menjadikan dermaga Samudera Indo Sejahtera sebagai basis logistik pengembangan Masela ini membikin gaduh di lingkaran petinggi Inpex Masela Ltd, perusahaan minyak dan gas kontraktor Blok Masela.

            Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, yang mengatakan bahwa saat ini pihaknya masih mengevaluasi beberapa dokumen PoD yang diajukan Inpex ke SKK Migas. Salah satu yang dibahas adalah tingkat pengembalian investasi (Internal Rate of Return/IRR). Inpex, kata Dwi, menginginkan IRR Proyek Masela sebesar 15%. Namun, Dwi belum bisa berkomentar apakah keinginan tersebut dapat disetujui atau tidak. Yang jelas, pemerintah akan menjaga  nilai-nilai keekonomian proyek.

            Di sisi lain, Pemerintah tetap memperhatikan penerimaan negara sebelum memutuskan itu, karena Dwi mengatakan bahwa dia masih ingin meninjau ulang terkait masalah split proyek ini. Dwi pun berupaya agar proyek anyar itu investasinya bisa di bawah US$ 20 miliar. Sebelumnya, Menteri ESDM Ignasius Jonan telah memperkirakan investasi proyek itu bisa mencapai US$ 20 miliar.

         Namun, hal yang terpenting selain menganalisis dari sisi permodalan (investasi) dan keuntungan negara, para stakeholder juga bekerja sama dengan pemerintah dalam hal pemanfaatan sumber daya manusia. Jokowi sangat menginginkan adanya daya serap tenaga kerja lokal yang dapat bersaing dan diunggulkan di dalam proyek migas blok Masela.

S for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here