Sri Mulyani Beberkan Alasan Jokowi Ingin Libur Akhir Tahun Dikurangi

0

Sri Mulyani Beberkan Alasan Jokowi Ingin Libur Akhir Tahun DikurangiGaekon.com – Presiden Joko Widodo meminta agar jatah libur akhir tahun dan pengganti cuti Idul Fitri pada bulan Desember mendatang dikurangi. Terkait alasan permintaan Presiden Jokowi tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mengungkapkan alasan-alasannya.

Menurutnya, bila hari libur terlampau panjang, bisa memicu kenaikan kasus Covid-19 sehingga aktivitas ekonomi yang dilihat mulai meningkat bisa saja kembali melemah. Kemudian ia juga mengatakan, dalam kondisi normal hari libur biasanya mendorong aktivitas masyarakat untuk saling berinteraksi sehingga terjadi konsumsi.

Sementara itu, bila libur panjang di masa pandemi, justru nantinya dapat meningkatkan kasus Covid-19 namun malah tidak membuat ekonomi jadi lebih membaik.

“Berarti ini harus hati-hati melihatnya. Apakah dengan libur panjang masyarakat melakukan aktivitas mobilitas tinggi namun tidak menimbulkan belanja dan menimbulkan tambahan kasus covid. Itu harus dijaga,” jelas Sri Mulyani ketika memberikan paparan penjelasan dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/11/2020).

Sri Mulyani mengatakan, pada bulan pertama kuartal IV, yakni Oktober, jumlah hari kerja sudah lebih pendek dibanding tahun lalu. Sedangkan pada Oktober tahun ini jumlah hari kerja hanya 19 hari, sementara tahun lalu 23 hari.

Nyatanya libur panjang di akhir pekan pada Oktober ini menyebabkan aktivitas ekspor impor di pelabuhan sedikit terganggu karena harus libur. Kegiatan perekonomian pun menurun, terlihat dari konsumsi listrik di bidang bisnis yang menurun.

“Dan itu menggambarkan berarti dampaknya ke ekonomi di sektor produksi
juga menurun, di konsumsi tidak pick up juga,” jelas dia.

Sementara itu, untuk hari kerja bulan November jumlahnya 21 hari baik tahun ini maupun tahun lalu. Sedangkan untuk Desember 2020, jumlah hari kerjanya menyisakan hanya 16 hari saja apabila ada libur akhir tahun yang cukup panjang seperti yang direncanakan sebelumnya.

“Kita tidak hanya lihat satu sisi tapi semuanya. Aspek kesehatan ekonomi kegiatan usaha dan lain-lain. Ini yang dimaksudkan oleh Presiden apakah jumlah hari kerja atau libur panjang dalam suasana covid menimbulkan dampak unintended yakni jumlah kasus meningkat tapi aktivitas ekonomi tidak terjadi kenaikan,” ungkapnya.

Disisi yang lain, ia juga menyebut, konsumsi masyarakat kelas menengah saat ini masih sulit untuk didorong. Hal ini dikarenakan, konsumsi masyarakat kelas menengah erat kaitannya dengan kepercayaan mereka dalam proses penanganan pandemi oleh pemerintah.

“Idealnya vaksin sudah ada, sehingga vaksin bisa kita betul-betul membuat masyarakat memiliki confidence. Ini sedang dihadapi semua negara karena menghadapi situasi sama di mana masyarakat ingin melakukan aktivitas tapi sangat tergantung pada apakah covid bisa dikendalikan,” pungkas dia.

Z For GAEKON