Tak Tahan Dihina Miskin Tetangga, Sekeluarga Ini Pindah Ke Hutan

0

Tak Tahan Dihina Miskin Tetangga, Sekeluarga Ini Pindah Ke HutanGaekon.com – Keluarga ini pindah ke hutan karena hidup miskin dan tak tahan lagi dengan hinaan tetangga. Oloandi Pulungan (32) selaku kepala keluarga pindah ke Tepi Hutan Desa Sipangko, Kecamatan Angkola Muaratais Kabupaten Tapanuli Selatan.

Oloandi mengatakan dia tak mampu lagi mengontrak rumah di desa. “Di kampung pun dulunya ngontrak, ini pun kita punya lahan di sini ada pondok punya paman,” ujar Oloandi.

Profesi Oloandi adalah buruh panjat kelapa. “Karena kita ini orang susah dan miskin yang enggak punya apa-apa jadi dipandang sebelah mata dan diejek-ejek. Enggak tahan lagi dengan ejekan-ejekan itu, terpaksa awak pergi menyendiri di pinggir hutan ini,” terang Oloandi.

Oloandi hidup di pinggir hutan Kecamatan Angkola Muaratais. Hidup di dalam gubuk berlantai tanah, dengan dinding yang gampang ditembus.

Bersama anak dan istrinya, buruh panjat kelapa itu setiap malamnya tidur dengan alas karpet seadanya. Ancaman gigitan nyamuk hutan dan binatang buas lainnya tak lagi dia hiraukan.

Melewati malam tanpa lampu penerangan juga sering dialami keluarga tersebut. Selain karena memang tidak ada listrik tersambung ke gubuk pamannya tersebut, Oloandi tak punya cukup uang membeli lilin.

Saat ini Anak Oloandi yang paling sulung sudah duduk di bangku kelas satu SD. Setiap hari, Oloandi menemani anaknya ke sekolah dan anaknya tersebut harus berjalan sejauh 5 Km agar bisa sampai ke sekolah.

Tidak ada jalan lain untuk membeli beras dan keperluan dapur lainnya, termasuk menyambung sekolah anaknya selain menjadi buruh panjat kelapa.

Oloandi juga tidak punya lahan untuk bercocok tanam, dampaknya anaknya yang masih berusia satu tahun pun nyaris tak pernah minum susu.

Paling tinggi penghasilan Oloandi dalam sehari dari upah memanjat kelapa hanya Rp 50 ribu rupiah saja.

Sulitnya lagi, dalam seminggu jasanya hanya dua kali dipakai. Itu artinya seminggu hanya bisa menghasilkan 100 ribu rupiah saja.

“Hanya 50 ribu rupiah per hari. Tertentu juga, itu pun kadang satu hari ini ada, besok kadang enggak ada. Kadang mau, dalam seminggu cuma dua kali,” terang Oloandi.

Selama ini, kata Oloandi pendataan memang sering dilakukan Pemerintah terhadap keluarga kurang mampu. Mirisnya, meski sudah terdata Oloandi tak pernah merasakan bantuan yang seharusnya menjadi haknya.

Padahal, kata Oloandi tetangganya semasa di perkampungan berhasil memperoleh bantuan. “Kalau data sering, tapi enggak pernah dapat bantuan. Tinggal datanya aja yang tinggal, padahal tetangga dapat juga,” keluh Oloandi.

Atas kesenjangan yang dialami, Oloandi berharap pemerintah di republik dapat berlaku adil. “Tempat tinggal kami yang paling parah, kalau bisa pemerintah sudilah membantu,” harap Oloandi.

K For GAEKON