Tentukan Idul Fitri, Hari Ini PBNU Akan Gelar Pengamatan Hilal

0

Tentukan Idul Fitri, Hari Ini PBNU Akan Gelar Pengamatan HilalGaekon.com – Hari ini (11/5) Lembaga Falakiyah NU di seluruh Indonesia akan menggelar rukyatul hilal karena bertepatan dengan 29 Ramadhan 1442 H.

Rukyatul hilal digelar dengan mengamati ufuk barat pada arah di mana Matahari dan Bulan berada. Prakiraan waktu terbenamnya Matahari dan parameter Bulan disajikan oleh hisab sebagai pendukung pelaksanaan rukyatul hilal.

Lembaga Falakiyah PBNU melaksanakan perhitungan dengan hisab jama’i (tahqiqy tadqiky ashri kontemporer) khas Nahdlatul Ulama bagi seluruh Indonesia.

Data hisab awal Syawwal 1442 H Lembaga Falakiyah PBNU telah melakukan hisab (perhitungan ilmu falak) terhadap hilal awal Syawwal 1442 H dengan menggunakan sistem hisab jama’i (tahqiqy tadqiky ashri kontemporer) khas Nahdlatul Ulama.

Markaz nasional ditentukan di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya Jakarta Pusat dengan koordinat 6º 11’ 25” LS 106º 50’ 50” BT. Hasil hisab meliputi Ijtima’ pada Rabu 12 Mei 2021 pukul 01:59:22 WIB dengan tinggi hilal – 4º 22’ 28” dan letak Matahari terbenam = 18º 13’ 41” utara titik barat.

Berdasarkan hasil hisab parameter hilal terkecil terjadi di kota Jayapura propinsi Papua (tinggi –5º 28’) dan parameter hilal terbesar terjadi di kota Pelabuhan Ratu propinsi Jawa Barat (tinggi –4º 19’).

Wakil Sekretaris LFPBNU, Ma’rufin Sudibyo mengatakan bahwa cara pengamatan hilal untuk saat ini terbagi menjadi tiga.

Diantaranya yaitu mengandalkan mata telanjang, mata dibantu alat optik (umumnya teleskop) hingga yang termutakhir adalah alat optik (umumnya teleskop) terhubung sensor/kamera.

Dari ketiga cara tersebut, keterlihatan hilal terbagi menjadi tiga pula yakni mulai dari kasatmata telanjang (bil fi’li), kasatmata teleskop dan kasat–citra.

Terlihat atau tidaknya hilal pun sangat bergantung pada sejumlah faktor. Mulai dari parameter bulan sendiri (berupa tinggi/irtifa’, elongasi dan magnitudo visual), parameter optik atmosfer (konsentrasi partikulat pencemar, uap air dan sebagainya) dan tingkat sensitivitas mata / sensor kamera.

“Dalam ilmu falak modern, terlihatnya hilal sebagai lengkungan bulan sabit sangat tipis adalah produk kombinasi antara kecerlangan bulan sabit terhadap kecerlangan langit senja latar belakang (syafak) dan perbandingan kontras Bulan sabit–langit senja latar belakang terhadap sensitivitas mata / sensor kamera,” jelasnya.

D For GAEKON