Tiga Mahasiswa Jadi Tersangka Pemalsuan Surat Swab, Salah Satunya Anak Kedokteran

0

Tiga Mahasiswa Jadi Tersangka Pemalsuan Surat Swab, Salah Satunya Anak KedokteranGaekon.com – Tiga mahasiswa salah satunya jurusan kedokteran diamankan oleh Polda Metro Jaya. Ketiganya terlibat kasus pemalsuan surat hasil tes swab PCR. Ketiga pelaku ini sebelumnya pernah diviralkan oleh dr Tirta. Salah satu pelaku pernah mempromosikan menjual surat swab PCR tanpa tes.

“Ini juga beredar di media sosial dari dr Tirta tentang adanya lolos 3 orang ke Bali dengan gunakan surat PCR palsu. Modusnya memalsukan surat PCR mengatasnamakan PT BF yang dilakukan seseorang keperluannya untuk menaiki pesawat,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Sebagai informasi, salah satu persyaratan untuk penerbangan di masa pandemi yakni calon penumpang harus mengantongi surat hasil swab PCR yang menyatakan bebas COVID-19.

“Kemudian PCR itu tidak bisa jadi tidak sama dengan swab antigen yang langsung jadi 30 menit atau 15 menit, tapi biasanya jadinya minimal 2 hari sebelum pemberangkatan orang mau berangkat harus melakukan PCR dulu untuk mengetahui reaktif atau nonreaktif. Kalau nonreaktif harus keluar surat resmi. Dari dasar itu bisa dipakai untuk melakukan perjalanan ke Bali,” papar Yusri.

Polisi kemudian menangkap tiga pelaku yang berstatus sebagai mahasiswa. Salah satu pelaku merupakan mahasiswa kedokteran.

“Jadi ketiganya pelajar/mahasiswa. MFA adalah mahasiswa kedokteran yang masih berpendidikan di salah satu universitas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Selain MFA, polisi juga meringkus dua tersangka lain yakni EAD dan MAIS. Ketiganya pertama kali mendapatkan tawaran jasa surat swab PCR tanpa tes melalui temannya di Bali.

Para tersangka hanya bermodalkan file pdf perusahaan lab yang kemudian dipalsukan dan memasukkan data KTP pemesan ke pdf tersebut. Adapun file pdf itu mengatasnamakan PT BF.

“Isinya (posting-an) adalah ini dia, ‘yang mau PCR cuma butuh KTP nggak usah swab beneran, 1 jam jadi. Ini bisa dipakai di seluruh Indonesia nggak cuma di Bali aja, dan tanggal bisa pilih H-1 atau H-2, dan 100 persen lolos testimoni’,” kata Yusri membacakan postingan MHA, saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Kamis (7/1/2021).

Yusri mengatakan MHA hanya memerlukan kiriman file PDF atas nama PT BF yang dimaksud. Lalu nantinya PDF itu akan diedit menggunakan nama yang ada di KTP pemesan dalam hal ini MAIS.

“Mau berangkat cukup kirimkan bukti PDF atas nama PT ini tinggal diubah saja, masukan namanya, kemudian saudara MAIS ini bawa komputer karena pekerjaan pelajar, dia masukkan nama beserta dua rekan lainnya, identitas lengkap, kemudian coba masuk ke Bandara, lolos, dan bisa berangkat ke Bali,” ucap Yusri.

Yusri menyebut akhirnya para tersangka mempromosikan cara pemalsuan surat tersebut di media sosial. Dari hasil promosi itu para tersangka mendapatkan pelanggan yang sudah membayar Rp 650 ribu untuk setiap surat palsu.

“Dari situ kemudian saudara MAIS sesampainya di Bali bertemu dengan temannya melalui namanya MHA, coba sudah mempromosikan melalui akunnya dia erlangnya ini promosikan dicoba dan memang ada 2 pelanggan yang sudah mentransfer ke Erlang ya melalui akun email Erlang ini,” ujar Yusri.

Yusri menyebut ketiga pelaku adalah mahasiswa. Salah satunya mahasiswa kedokteran.

“Jadi ketiganya pelajar/mahasiswa. MFA adalah mahasiswa kedokteran yang masih berpendidikan di salah satu universitas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus.

Selain MFA, polisi juga meringkus dua tersangka lain yakni EAD dan MAIS. Ketiganya pertama kali mendapatkan tawaran jasa surat swab PCR tanpa tes melalui temannya di Bali.

“MAIS sekitar tanggal 23 Desember 2020 itu akan berangkat ke Bali bersama EAD dan MFA. Namun ada ketentuan hasil swab PCR minimal H-2. Kemudian dia kontak temannya di Bali, dapatlah gambaran dari temannya di Bali (masih dilakukan pengejaran). Dia bilang kalau mau berangkat, saya akan kirim surat pdf tinggal kamu ubah nama saja,” kata Yusri.

Tiga tersangka pemalsu surat swab PCR lolos dari pemeriksaan petugas di Bandara Soekarno-Hatta saat hendak terbang ke Bali. Polisi pun akan melakukan pemeriksaan kepada petugas bandara.

“Akan kita koordinasi ke bandara untuk ambil keterangan saksi yang melakukan pemeriksaan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Pada 23 Desember 2019, ketiga pelaku (MAIS, MFA, EAD) akan berangkat ke Bali. Namun karena membutuhkan surat swab PCR cepat, keduanya menghubungi seorang pemalsu lainnya yang tinggal di Bali.

Lebih lanjut, mereka akhirnya mendapatkan file pdf yang kemudian diedit dengan menggunakan identitas ketiganya. Dengan membawa surat swab PCR palsu itu mereka lolos dari pemeriksaan di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta menuju Denpasar.

Polisi menyebut tindakan ketiganya bisa menyebabkan klaster COVID-19 baru jika terbukti positif. Ia juga meminta para petugas bandara untuk meneliti lebih detil lagi terkait hasil surat SWAB yang dibawa penumpang.

“Pembelajaran dari ini, tindak pidana akibatnya nanti cukup besar. Kebetulan yang bersangkutan negatif. Bagaimana kalau positif , tanpa melalui PCR (cukup melakukan pemalsuan surat) bisa berangkat. Hal ini bisa menyebabkan klaster dan menyebarkan ke orang orang yang sehat,” kata Yusri.

Yusri juga berpesan agar petugas pemeriksaan bandara lebih berhati-hati dengan modus sejenis. “Teman-teman penerbangan bisa lebih teliti lagi dalam hal melihat surat hasil PCR seseorang,” pesannya.

K For GAEKON