Timbulkan Multitafsir, Kapolri Minta Maaf Dan Cabut TR Larangan Media Siarkan Arogansi

0

Timbulkan Multitafsir, Kapolri Minta Maaf Dan Cabut TR Larangan Media Siarkan ArogansiGaekon.com – Kapolri Jendral Pol Listyo Sigit Prabowo minta maaf atas surat telegram yang berkaitan dengan peliputan media massa di lingkungan Polri. Pasalnya terbitnya Telegram tersebut menimbulkan multitafsir di masyarakat.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Suara.com, Banyak masyarakat yang menafsirkan bahwa media dilarang meliput upaya dan tindakan arogansi Polri.

Dalam keterangan tertulisnya, Kapolri mengatakan bahwa dicabutnya Telegram tentang larangan media tersebut sebagai wujud Polri tidak anti-kritik, bersedia mendengar dan menerima masukan dari masyarakat.

“Dan sekali lagi mohon maaf atas terjadinya salah penafsiran yang membuat ketidaknyamanan teman-teman media, sekali lagi kami selalu butuh koreksi dari teman-teman media dan eksternal untuk perbaikan insititusi Polri agar bisa jadi lebih baik,” terangnya.

Niat awal Sigit membuat surat telegram tersebut yaitu untuk jajaran kepolisian agar tidak bertindak arogan atau menjalankan tugasnya sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.

“Arahan saya ingin Polri bisa tampil tegas, namun humanis,” ujar Sigit.

Pasalnya, menurut Sigit beberapa tayangan media masih terlihat banyak anggota yang menampilkan arogansi. Gerak-gerik perilaku anggota kepolisian selalu disorot oleh masyarakat lewat pemberitaan media.

Maka dari itu Sigit meminta agar anggota lebih hati-hati saat tampil di lapangan, tidak memperlihatkan tindakan yang kebablasan sehingga terlihat arogan.

“Tolong anggota untuk lebih berhati-hati dalam bersikap di lapangan, karena semua perilaku anggota pasti akan disorot, jangan suka pamer tindakan yang kebablasan dan malah jadi terlihat arogan, masih sering terlihat anggota tampil arogan dalam siaran liputan di media, hal-hal seperti itu agar diperbaiki sehingga tampilan anggota semakin terlihat baik, tegas namun humanis,” tutur Sigit.

Sigit juga menjelaskan bahwa bukanlah media yang dilarang meliput arogansi polisi di lapangan. Namun, pribadi dari personel kepolisian itu sendiri yang tidak boleh bertindak arogan.

“Jadi dalam kesempatan ini saya luruskan, anggotanya yang saya minta untuk memperbaiki diri untuk tidak tampil arogan, namun memperbaiki diri sehingga tampil tegas, namun tetap terlihat humanis. Bukan melarang media untuk tidak boleh merekam atau mengambil gambar anggota yang arogan atau melakukan pelanggaran,” kata Sigit.

Dengan kerendahan hati, Sigit pun menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat karena lahirnya perbedaan persepsi terkait dengan telegram tersebut.

“Karena kami Polri juga butuh masukan dan koreksi dari eksternal untuk bisa memperbaiki kekurangan kami. Oleh karena itu, saya sudah perintahkan Kadiv Humas untuk mencabut STR tersebut,” demikian Sigit.

Mantan Kabareskrim Polri itu meluruskan informasi terkait Telegram Kapolri Nomor ST/750/IV/HUM.3.4.5./2021 tertanggal 5 April 2021, dan mencabutnya dengan menerbitkan Telegram Nomor ST/759/IV/HUM.3.4.5./2021 tanggal 6 April 2021.

D For GAEKON