UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung Ciptakan Prototipe Ventilator Darurat Untuk Pasien Corona

0

Jumlah kasus yang terus bertambah terutama untuk pasien positif corona (Covid-19) membuat kebutuhan alat kesehatan (alkes) terus bertambah. Para ahli juga sudah mulai membantu untuk berinovasi membuat alkes tersebut, mengingat persediaannya cukup terbatas.

Seperti yang dilakukan UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung berinovasi membuat prototipe ventilator darurat. Ventilator ini sendiri salah satu alkes yang sangat penting untuk merawat pasien Covid-19.

Sebagai informasi, Covid-19 menyerang organ pernafasan manusia sehingga pasien rentan mengalami pneumonia, bahkan kegagalan pernafasan. Ventilator ini berfungsi untuk membantu pasien Covid-19 yang mengalami pneumonia dan kesulitan pernafasan.

Seperti yang dikutip GAEKON dari medcom.id, penelitian ini dipimpin oleh Mada Sanjaya W.S., Ph.D, bersama alumni pegiat Komunitas Robotika Bolabot dari Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, UIN SGD Bandung. Inovasi mereka diberi nama VeNu-1 atau Ventilator Nusantara 1.

“Tim peneliti berhasil membangun prototipe low cost ventilator yang dapat digunakan dalam keadaan darurat,” terang Mada Sanjaya dalam keterangan tertulisnya.

Mada Sanjaya mengatakan inovasi Ventilator Nusantara mulai dirancang pada akhir Maret 2020. Setelah melakukan penelitian rancang bangun selama beberapa hari dihasilkan prototipe VeNu-1.

Prototipe ventilator digital ini dapat membantu pasien untuk menghirup oksigen, serta dapat mengeluarkan karbondioksida sebagaimana dalam pernapasan normal,” jelas Mada Sanjaya.

Mada juga mengatakan, komponen utama VeNu-1 adalah tabung pompa mekanik, motor servo sebagai penggerak, board mikrokontroler arduino, modul bluetooth, selang, serta masker ventilator.

Prototipe VeNu-1 dapat dikontrol penggunaannya melalui smartphone, sehingga bersifat Non-contact. Prinsip kerja dari prototipe VeNu-1 ini adalah pengontrolan melalui smartphone, kemudian operator akan mengirimkan perintah digital berupa pengaturan kecepatan gerak motor servo yang dikontrol oleh chip mikrokontroler arduino.

Mada juga menjelaskan, setelah gerak motor servo dikontrol, kemudian menekan pompa mekanik sehingga udara (oksigen) mengalir melalui selang menuju pasien untuk setengah periode. Setengah periode berikutnya, motor servo akan melepas tekanan pada pompa mekanik, sehingga pompa mekanik kembali pada kondisi semula serta menarik karbondioksida dari pasien.

“Karena prototipe ventilator ini bekerja secara periodik dan dapat dikontrol pengiriman oksigen dan penarikan karbondioksida, maka sistem ini dapat membantu pasien untuk dapat bernafas secara normal,” tutur Mada.

“Berbagai komponen dalam membangun VeNu-1 bersifat open source serta tersedia banyak di pasaran sehingga akan mudah untuk dapat memproduksi dalam jumlah besar dan dalam kondisi darurat,” tambahnya.

Dalam mengembangkan sebuah prototipe VeNu-1, tim peneliti dari UIN SGD Bandung memerlukan belanja komponen sekitar Rp2 juta, di luar biaya teknis. Sehingga, VeNu-1 termasuk alat yang low cost, dibandingkan dengan ventilator standard pada umumnya. Alias sangat murah harganya.

Prototipe VeNu-1 saat ini masih berada dalam posisi pengujian kemampuan tekanan udara serta belum dapat langsung digunakan oleh pasien medis. Prototipe VeNu-1 ini masih memerlukan penyempurnaan dan pengujian klinis lebih lanjut.

Peneliti UIN SGD akan bekerja sama dengan salah satu RSUD di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat untuk melakukan pengujian klinis lebih lanjut.

“Penelitian dan pengembangan prototipe VeNu-1 memberikan harapan bahwa ventilator dapat diproduksi, bahkan dapat digunakan meski hanya dalam kondisi darurat saat rumah sakit kekurangan ventilator standar,” harapnya.

Penelitian ini telah mendapat sambutan dan dukungan dari pimpinan kampus, khususnya Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung Hasniah Aliah.

“UIN SGD berkomitmen untuk terus mengembangkan dan menyempurnakan karya inovasi ini,” tegas Hasniah.

KL For GAEKON