Ujian Nasional (UN) Akan Diganti AN, Begini Penjelasan Kemendikbud!

0

Ujian Nasional (UN) Akan Diganti AN, Begini Penjelasan Kemendikbud!Gaekon.com – Semenjak Indonesia dilanda pandemi Covid-19, Ujian Nasional (UN) resmi ditiadakan. Rencananya, UN akan digantikan dengan Asesmen Nasional (AN) pada September-November 2021.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kumparan, berbeda dengan UN yang melibatkan seluruh siswa di sekolah, AN hanya akan mengambil sampel siswa dari setiap sekolah yang dipilih secara acak oleh Kemdikbud.

AN merupakan penilaian yang dilakukan di setiap jenjang sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA/SMK dan sederajat.

Hasil Asesmen Nasional Nantinya Akan Dikembalikan Ke Sekolah Atau Institusi

Kepala Balitbang dan Perbukuan Kemdikbud, Anindito Aditomo mengatakan setelah dilaksanakan dan dinilai, hasil Asesmen Nasional ini nantinya akan dikembalikan ke sekolah atau institusi masing-masing demi mencapai tujuan dari AN itu sendiri.

“AN tujuan utamanya untuk mendorong terjadinya perbaikan kualitas pelajaran, dari SD, SMP, SMA/SMK, sederajat. Dorongan ini dicapai dengan cara mengembalikan hasil AN ke satuan pendidikan supaya mereka bisa pakai sebagai bahan evaluasi diri dan berbasis data objektif. Hasilnya sebermanfaat mungkin,” ujar Anindito.

Anindito mengatakan dari jenjang SD akan diambil maksimal 30 orang dan dari sekolah menengah diambil 45 orang. Setiap jenjang akan mempersiapkan hingga 5 peserta AN cadangan.

Anindito masih belum mengungkapkan soal waktu pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 serta PPKM, sehingga Kemdikbud masih harus melakukan berbagai penyesuaian.

“Kapannya, kita merencanakan menjelang akhir tahun ini. September, Oktober, atau November. Tapi karena ada PPKM, situasi dinamis, kita terus menyesuaikan. Menyesuaikan dengan kondisi pandemi di tiap wilayah. Kalau tidak memungkinkan, tidak akan dipaksakan,” pungkasnya.

AN memiliki tiga komponen utama, yaitu AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Literasi dan Numerasi, Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

“AKM mengukur kompetensi kognitif, fokus pada kompetensi yang nanti akan diperlukan; problem-solving dengan matematika dasar dan berpikir kritis. Survei karakter mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai yang mencerminkan profil belajar pancasila,” jelasnya.

Sementara itu, bentuk soal AKM sendiri bermacam-macam, mulai dari pilihan ganda tradisional, dan pilihan ganda kompleks.

Pada AN ini, tidak ada lagi siswa yang lulus atau tidak lulus. Hal ini disebabkan Kemdikbud ingin memotret secara kolektif, bukan individu.

Jika skor kolektif sekolah rendah, skor itulah yang akan menjadi bahan “cerminan” sekolah untuk melakukan evaluasi.

“Hasil akhirnya, diharapkan sekolah dan pemda mengidentifikasi apa yang harus diubah, jadi bukan hasil belajarnya. Jadi memperbaiki proses (pembelajaran). AN didesain untuk membetulkan itu. Memfasilitasi perbaikan sekolah, bukan untuk mengukur dan memetakan belaka,” terangnya.

D For GAEKON