Unjuk Rasa Soal PPKM, Wanita Di Pematangsiantar Ini Nekat Buka Baju Di Depan Massa

0

Unjuk Rasa Soal PPKM, Wanita Di Pematangsiantar Ini Nekat Buka Baju Di Depan MassaGaekon.com – Massa dari Aliansi Masyarakat Siantar Bersama (AMSB) berunjuk rasa di depan pintu masuk kantor DPRD Pematangsiantar pada Kamis (2/9). Dalam aksi itu ada seorang wanita yang spontan membuka baju hingga akhirnya viral di media sosial.

Melansir dari Kompas, Awalnya, Massa berunjuk rasa di Balai Kota Pematangsiantar di Jalan Merdeka, Pematangsiantar. Massa yang didominasi oleh ibu-ibu ini mengeluhkan mata pencarian mereka yang hilang selama PPKM.

Mereka mendesak pemkot agar mencari solusi. Dalam unjuk rasa itu, ibu-ibu membawa piring berisi biji jagung yang menjadi tanda sulitnya mengais rezeki selama PPKM Level 4.

Pemkot Masih Berupaya Mencari Solusi PPKM Level 4

Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Daerah Pemkot Pematangsiantar Zainal Siahaan datang menemui massa dan mengatakan, Pemkot Pematangsiantar masih berupaya untuk mencari solusi terhadap PPKM Level 4.

Ia juga memastikan Pemkot Pematangsiantar memberikan bantuan kepada warga yang terdampak ekonomi selama PPKM berlangsung.

Namun, para pengunjuk rasa justru kecewa dengan jawaban Zainal. Mereka akhirnya bergerak menuju Gedung DPRD Kota Siantar yang masih satu kompleks dengan balai kota.

Dalam aksi demo itu hanya satu anggota DPRD Pematangsiantar dari Komisi II Netty Sianturi yang menemui pengunjuk rasa.

Massa bergantian menyampaikan orasi. Saat itulah tiba tiba kejadian seorang wanita bernama Ani maju ke barisan paling depan. Ani saat itu memakai helm, masker, dan baju hitam.

Ia melangkah maju menyampaikan keluhannya kepada Netty. Sambil berteriak, ia spontan membuka baju yang dikenakannya seraya bicara dengan nada tinggi.

“Tiga rumah tangga Bu yang kami perjuangkan. Ibu (Netty) mewakili ibu-ibu di Siantar. Kami pedagang rela melakukan apa pun demi anak, untuk makan anak kami, sekolah anak, bayar koperasi kami lagi, Ibu pasti sudah mengerti,” ucap Ani.

Sementara itu ibu-ibu yang lainnya langsung menghalau dan menutup tubuh Ani dengan kertas karton. Ani kemudian diberikan pengeras suara untuk menyampaikan pendapatnya.

“Kami selama ini ngikutnya Bu, enggak boleh jualan, enggak jualan kami. Tapi apa dikasih sama kami Bu? Sudah kami tunggu lama, apalagi yang mau kami makan Bu? Minta tolong lah Bu beri kami bantuan. Ibu kan mewakili ibu-ibu di Siantar, kami minta tolong,” katanya.

Sementara itu Netty tidak memberikan jawaban tegas mengenai tuntutan itu. Ia minta agar massa bersabar. Ia juga mengatakan bahwa tuntutan massa akan disampaikan melalui rapat gabungan Komisi di DPRD Pematangsiantar.

D For GAEKON