Usai Divaksin Covid-19, Bocah SD Di Deli Serdang Meninggal Dunia

0

Usai Divaksin Covid-19, Bocah SD Di Deli Serdang Meninggal DuniaGaekon.com – Usai divaksin Covid-19, Bocah SD di Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara meninggal dunia.

Melansir dari Kumparan, bocah bernama Ronald Sitinjak (10) ini sempat dirawat di rumah sakit, lalu mengalami kejang-kejang.

Menurut keterangan sang ibu, Sarma, Ronald sakit satu hari pasca mengikuti vaksinasi di sekolah di kawasan Kecamatan Tanjung Morawa.

Pada Kamis (20/6) baru diketahui sakitnya kejang-kejang. Ronald saat itu mengeluh sakit di bagian perut, ia mengatakan perutnya keras.

“Kamis (20/6) baru ketahuan, sakitnya kejang-kejang, perutnya keras, kakinya juga,” ujar Sarma.

Sarma yang posisinya sedang bekerja di Medan, tak bisa mengurus Ronald. Ia kemudian meminta bantuan keluarganya membawa Ronald ke rumah sakit. Lalu Ronald dirawat hingga Senin (24/1).

“Awalnya ke klinik terdekat, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Medica, cuma di sana di tolak, alasannya tidak ada alat, sama dokter anaknya. Lalu dirujuk ke Rumah Sakit Mitra Sejati Medan,” tutur Sarma.

Ronald kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (26/1) dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Sarma tak mengetahui penyebab kematian anaknya. Pasalnya, selama ini putranya tidak memiliki penyakit bawaan.

“Tidak ada sama sekali [penyakit bawaan], selama ini, anak saya sehat. Pagi-pagi sudah disuruh neneknya belanja, jadi dia sama sekali tidak punya penyakit,” ujarnya.

Sarma tidak bisa berbuat banyak, ia mengaku pasrah dengan kematian anaknya.

“Semenjak dalam kandungan umur 10 tahun kita usahakan membesarkan anak kita. Tapi Tuhan kan, lebih sayang sama anak saya, kita pasrah saja, semoga anakku di terima Tuhan,” ujarnya.

Sementara itu, Kadis Kesehatan Deli Serdang, Ade Budi Krista, membantah dugaan Ronald meninggal karena vaksin. Menurut keterangannya, data sementara bocah malang itu meninggal karena tetanus.

“Ini sudah pasti tidak ada kaitan (dengan vaksin). Karena tetanus tidak ada hubungan dengan vaksin,” ujar Ade.

Ia mengatakan saat vaksinasi, kondisi Ronald layak untuk diberi dosis vaksin. Hal itu dibuktikan saat petugas melakukan verifikasi data dan skrining.

“Masa inkubasi tetanus 10 sampai dengan 14 hari. Artinya sebelum divaksin anak tersebut sudah terpapar tetanus. Timbul gejala kebetulan sesudah divaksin,” tambahnya.

Ade menerangkan, berdasarkan keterangan pihak RS Mitra Sejati, awalnya didiagnosa dengan [gejala] ileus. Kemudian difoto abdomen BNO hasil foto tidak ada indikasi ileus. Lalu hari berikutnya Ronald mengalami kejang-kejang dan dari pemeriksaan dokter spesialis anak, dinyatakan sebagai Tetanus.

D For GAEKON