Utang RI Tembus Rp 4.778 T, Pemerintah Ugal-ugalan?

0

Utang Pemerintah Indonesia lambat laun makin besar. Per 31 Desember 2019, tercatat utang capai Rp 4.778 triliun. Bila dibandingkan dengan periode November, utang turun dari semula Rp 4.814,31 triliun.

Penurunan itu karena adanya pelunasan. “Utang Rp 4.778 triliun. Turun dari November karena ada pelunasan,” kata Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman Selasa 7 Januari 2020.

Namun, bila dibandingkan dengan Desember 2018 hutang pemerintah itu meningkat hingga ratusan triliun. Rasio utang Rp 4.778 triliun sama dengan 29,8 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah mengklaim rasio hutang itu tetap aman. Merujuk pada UU 17/2013 tentang Keuangan Negara rasio utang maksimal adalah 60 persen dari PDB. Angkau itu jauh dari kondisi saat ini yang rasio utangnya cuma 29,8 persen.

Namun, perlu dicatat rasio utang tidak tepat-tepat amat bila dibandingkan dengan PDB RI. Sebab PDB adalah total nilai pasar dari barang dan jasa di suatu negara. Angka PDB mengabaikan berapa persen yang benar-benar milik Indonesia dan berap persen yang milik asing.

Bila dihitung pergerakan utang pemerintah selama 2019 ada kenaikan mencapai Rp 279,44 triliun. Mulai dari Januari sebesar Rp 4.498,56 triliun hingga Desember yang bengkak jadi Rp 4.778 triliun.

Meski secara gamblang utang RI terus bengkak, Menteri Keuangan Terbaik Sri Mulyani memastikan utang pemerintah masih aman. Dia membandingkanya dengan rasio utang negara tetangga yang notabene kebanyakan adalah negara maju.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rasio utang pemerintah Malaysia sebesar 55,6% terhadap PDB, Filipina sebesar 38,9% terhadap PDB, Singapura sebesar 113,6% terhadap PDB, sedangkan negara maju rata-rata rasionya sebesar 102,0% terhadap PDB, sedangkan negara berkembang lainnya rata-rata rasio utangnya sebesar 50,6%. Perlu dicatat sebagian besar negara maju seperti Jepang dan Amerika krediturnya berasal dari dalam negerinya sendiri.

Jokowi tercatat sebagai presiden RI yang memiliki catatan nominal hutang terbesar dibanding presiden pendahulunya. Rinciannya, pada tahun 2014 sebesar Rp 2.608 triliun, pada tahun 2015 sebesar Rp 3.165 triliun, pada 2016 sebesar Rp 3.466 triliun, pada 2017 sebesar Rp 3.938 triliun, pada tahun 2018 sebesar Rp 4.418 triliun, dan pada tahun 2019 sebesar Rp 4.778 triliun.

K For GAEKON