Wacana Tarif PPN Naik, Dirjen Pajak Beberkan Alasannya

0

Wacana Tarif PPN Naik, Dirjen Pajak Beberkan AlasannyaGaekon.com – Kebutuhan pendanaan negara yang mengalami perubahan, membuat Dirjen Pajak Kementerian Keuangan Suryo Utomo mendiskusikan tentang pajak pertambahan nilai (PPN).

Seperti yang dilansir GAEKON dari Detik, Suryo membeberkan alasannya, yang tak lain karena kebutuhan pendanaan negara untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional membutuhkan biaya.

“Kenapa kok ada diskusi terkait PPN yang sempat didiskusikan oleh teman-teman wartawan beberapa hari terakhir kemarin, bahwa waktu ke waktu kebutuhan akan uang negara yang dikhususkan untuk penanganan kesehatan, perlindungan sosial, pembiayaan korporasi, UMKM, insentif itu mengalami perubahan,” katanya.

Dalam mempelajari kenaikan PPN tersebut, pihaknya mempelajari praktik yang dilakukan di beberapa negara. Misalnya Arab Saudi yang menaikkan PPN dari 5% menjadi 15% di Juli 2020.

Diperkirakan ada dua skema yang mungkin dapat dilakukan, single tarif PPN, Berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang PPN dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM), tarif PPN berada direntang 5% hingga 15%.

Selain itu ada multitarif PPN, artinya tarif PPN berdasarkan barang regular dan barang mewah. Perlu dilakukan revisi terhadap UU 46/2009.

Tahun ini anggaran penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional masih tinggi, khususnya terjadi peningkatan untuk kebutuhan sektor kesehatan, meskipun ada penurunan di sektor lain.

Pihaknya menjelaskan bahwa penerimaan pajak pada 2020 minus 19,7%. Penerimaan kepabeanan dan cukai pun sedikit turun, dan PNBP juga turun. Sementara pemerintah harus memenuhi kebutuhan belanja.

“Namun demikian di sisi sebaliknya belanja negara mengalami peningkatan karena kita memerlukan pengeluaran yang ditujukan untuk penyehatan masyarakat, menjaga masyarakat khususnya di sisi kesehatan. Kemudian yang kedua menjaga supaya ekonominya paling tidak bertahan,” jelas Suryo.

D For GAEKON