Pesatnya pertumbuhan toko ritel modern di Indonesia terbilang begitu masif. Berdasarkan data BPS toko modern di Indonesia kini mulai merambah tempat perdangan publik.  Toko modern mendominasi sebanyak 7,06% setelah pasar tradisional sebanyak 88,52%.

Perbandingannya memang terpaut jauh, namun pesatnya pertumbuhan toko ritel modern membuat pebisnis toko kecil wajar bila merasa ketar-ketir. Duo besar market leader ritel modern Alfamart dan Indomaret telah memiliki ribuan gerai yang tersebar hingga pelosok tanah air.

PT Sumber Alfaria Trijaya Ybk tercatat memiliki 13.726 gerai, itu masih per Juli 2019. Jumlahnya akan terus menerus meningkat siring dengan bertambahnya tahun. Ekspasi yang begitu massif membuat mereka mampu menambah tiga ribu lebih gerai dalam rentang 2014-1019. Sepanjang 2018, Alfamart mencatat pertumbuhan laba 116,5% yaitu Rp 650,14 miliar.

Sementara itu, PT Indomarco Prismatama owner gerai Indomaret mencatat telah memiliki 16.736 gerai. Dari jumlah itu, sekitar 30 persennya merupakan waralaba. Baru sisanya adalah milik perusahaan. Sepanjang tahun 2019 Indomaret mampu menambah 800-1.000 gerai di tanah air. Ekspansi itu dilakukan mulai Pulau Jawa, Sumatera, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Tenggara, hingga Kalimantan Barat.

Bisnis ritel modern telah diatur dalam Permendagri Nomor 68 Tahun 2012. Aturan tersebut memberi ketentuan batasan status waralaba jenis usaha toko modern. Apabila terdapat 150 gerai yang dimiliki dan dikelola sendiri, maka 40 persen dari jumlah itu harus diwaralabakan. Selain peraturan pemerintah pusat, beberapa perda atau pergub juga memiliki variasi aturan yang memberikan aturan ketat ijin operasional toko ritel modern.

Namun aturan hanya sebatas hitam di atas putih. Pada praktiknya di lapangan banyak fakta pahit yang terjadi. Banyak bisnis warung rumahan yang omzetnya anjlok begitu berdiri ritel modern yang memiliki lokasi berdekatan.

Pemilik modal besar dalam hal ini pebisnis toko ritel modern memiliki kelebihan dibanding warung rakyat dan pasar tradisional. Pemodal besar bisa dengan mudah melakukan promo menarik dan obral harga produk.

Besarnya modal membuat toko ritel modern leluasa membuat program promo rutin di akhir minggu. Hal ini tentu tidak akan bisa dilakukan oleh warung rumahan. Sebab perputaran laba mereka tidak memiliki alokasi untuk biaya promosi, iklan dan pengembangan usaha. Warung rumahan hanya memutar laba sebagian untuk biaya hidup pemiliknya dan sebagaian lagi untuk modal jualan.

Upaya pemerintah sampai saat ini juga terbatas dalam hal proteksi dan regulasi. Belum ada strategi pendampingan, pembekalan manajerial dan pengembangan kepada pemilik warung rumahan. Upaya pendampingan yang sudah berjalan malah dilakukan oleh CSR dua perusahaan rokok besar dalam negeri.

Tentunya, keadaan seperti ini menuntut pemerintah menyusun kebijakan yang lebih pro ekonomi kerakyatan. Tak sekadar melakukan moratorium tapi juga melakukan program nyata yang konkret untuk mengembangakan pemilik warung rumahan.

Apa Untungnya Belanja Di Warung Tetangga?

Sebelum menjamurnya toko ritel modern, sebagian dari kita pasti lebih sering berbelanja di warung rumahan. Sebagian besar warung itu dimiliki dan dikelola oleh tetangga kita. Motif berbelanja kita pada saat itu adalah karena faktor kedekatan. Hal itu disebabkan memang belum banyak toko ritel modern yang dengan mudah kita jumpai.

Namun, begitu saat ini banyak toko ritel modern. Yang malah kita lakukan adalah sebaliknya. Yaitu berbelanja lebih jauh asal di toko ritel modern. Alasannya adalah belanja kebutuhan harian jadi lebih hemat sebab ada banyak promo dan potongan harga yang yang ditawarkan toko ritel modern di akhir pekannya. Namun, apakah bijak bila kita melakukan hal tersebut berulang kali?

Padahal ada benefit dari warung rumahan yang tidak akan kita jumpai di toko ritel modern. Seperti unsur interaksi antar pelanggan dan penjual di warung tetanga yang begitu bersahabat. Di warung pembeli entah siapapun tidak kan diperlakukan secara kaku.  Interaksi sosial terkadang membawa penjual dan pembeli bisa ngobrol ngalor-ngidul, tak hanya obrolan sebatas transaksi seperti yang kita rasakan di toko ritel modern.

Meski tidak menampik di toko ritel modern ada interaksi sosial namun feel nya tidak natural, sebab itu dilakukan atas dasar SOP perusahaan. Ada juga program kartu pelanggan, namun meski kita sudah jadi pelanggan tetap selama bertahun-tahun, kepada penjualnya kita tidak betul-betul mengenalnya. Sementara di warung tetangga pembeli dan penjual berinteraksi sudah selayaknya saudara. Sehingga ada jenis transaksi yang tak melulu komersil. Ada istilahnya transaksi karena kedekatan emosional (baca: bisa kasbon atau diberi bonus barang).

Keakraban pembeli dan penjual lebih terasa bila bertransaksi di warung tetangga. Sementara di toko ritel modern interaksi hanya sebatas kepada pelayan bukan penjual. Nasib karir karyawan itu pun berkorelasi tehadap pembatasan usia yang diterapkan oleh aturan perusahaan.

Pada intinya, membeli di warung milik tetangga sama saja menjaga devisa di lingkungan kita agar tidak keluar. Perputaran uang transaksi tidak lari dari kampung kita sendiri. Artinya dalam cara sederhana, uang dari transaksi kita bisa dimanfaatkan warung tetangga untuk menafkahi anggota keluarganya.

K for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here