Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membantah soal keterkaitan pelemahan nilai tukar rupiah dengan penunjukan Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Purbaya menegaskan bahwa rupiah melemah sebelum pencalonan tersebut diumumkan.
“Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, jadi itu bukan isu. Ada faktor lain,” ujar Purbaya, dikutip dari CNN, Jumat (23/1/26).
Purbaya menyebut seluruh elemen pemerintah, termasuk BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), sepakat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Menurutnya, otoritas moneter memiliki strategis yang tepat untuk merespons dinamika global dan domestik.
“Yang penting sekarang bank sentral, Kementerian Keuangan, dan seluruh elemen pemerintah sepakat menjaga stabilitas nilai tukar. Kita percaya Bank Sentral punya strategi yang tepat,” ujarnya.
Purbaya meminta agar pasar tidak khawatir terhadap kondisi ekonomi nasional. Pasalnya, fundamental ekonomi Indonesia terus diperbaiki dan akan semakin kuat, seiring dengan sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter.
“Fundamental ekonomi kita terus diperbaiki dan akan semakin membaik. Jadi enggak usah khawatir,” kata Purbaya.
Purbaya juga memastikan tidak ada arahan khusus dari pimpinan politik terkait nilai tukar rupiah dalam forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Ia menyebut diskusi yang dilakukan hanya terkait kondisi ekonomi secara umum.
“Enggak ada arahan. Hanya diskusi soal kondisi ekonomi secara keseluruhan dan sepakat rupiah seharusnya lebih kuat. Enggak perlu khawatir rupiah akan memicu krisis ekonomi,” ujarnya.
Purbaya optimistis, dengan strategi Bank Indonesia yang terus diperkuat serta dukungan kebijakan pemerintah, arus modal asing akan masuk dan menopang stabilitas rupiah ke depan.
“Fundamental kita masih sangat baik, kebijakan sudah sinkron dengan otoritas moneter, ekonomi akan makin cepat, investor akan masuk, Rupiah menguat, pasar modal juga menguat,” ujarnya.
KA For GAEKON




