Terseret Kasus Keracunan MBG, Wawali Surabaya Armuji Ungkap Kondisi SPPG Tembok Dukuh

0

Terseret Kasus Keracunan MBG, Wawali Surabaya Armuji Ungkap Kondisi SPPG Tembok Dukuh

Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat menyeret nama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh, Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.

Wakil Wali Kota Surabaya Armuji akhirnya melakukan peninjauan langsung terhadap SPPG Tembok Dukuh.

Berdasarkan hasil pengamatan di dapur, menurut pria yang kerap disapa cak Ji tersebut, penyimpanan makanan, hingga pencucian ompreng, SPPG itu sangat bersih.

“Jadi kalau kita melihat dari seluruh kondisi, baik itu persyaratan, kitchen-nya, penyimpanan makanan, pencucian omprengnya, tadi lihat tadi bersih semua ya,” kata Cak Ji di SPPG Tembok Dukuh, dikutip dari Kompas, Selasa (12/5/26).

Seluruh standar juga telah diterapkan sebagaimana semestinya. Ia menuturkan bahwa keracunan tersebut diduga berasal dari daging yang menjadi salah satu menu MBG.

Namun, untuk kepastiannya, ia mengimbau agar menunggu hasil dari uji lab Dinas Kesehatan.

“Artinya kita tidak bisa menjustifikasi, si A salah, si B enggak. Artinya di gedung ini tadi kita lihat mulai pemasakan, kitchen-nya, tempat pengolahan, tempat penyajian, ompreng, sudah memenuhi standar semua,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Tembok Dukuh, Bubutan, Chafi Alida Najla menjelaskan, pihaknya memproduksi 3.020 porsi MBG setiap hari.

Ketika ada laporan keracunan, pihaknya langsung menghentikan produksi MBG yang baru terdistribusi sekitar 2.000 porsi.

“Karena hanya sekolah aja, karena saat saya menerima informasi bahwa ada sekolah yang keracunan langsung saya setop,“ ucap Chafi.

Ia menduga, keracunan tersebut berasal dari daging slice yang dimasak krengsengan. Untuk sementara pihak SPPG akan menghentikan produksi MBG sampai hasil uji laboratorium keluar.

Sebelumnya diketahui, kasus tersebut menimpa sekitar 200 siswa TK, SD dan SMP dari 12 sekolah di Kecamatan Bubutan, Surabaya.

Wakil Koordinator Regional Jatim Badan Gizi Nasional (BGN), Teguh Bayu Wibowo menerangkan akan melakukan evaluasi dan hasil uji lab terlebih dahulu untuk mengetahui penyebab pasti dari keracunan tersebut.

 

 

KA For GAEKON