Kenapa di Jawa Barat Minim Candi?

0
Candi
Sumber Foto: Kaskus.co.id

Gaekon.com – Membahas soal candi, rasanya di Pulau Jawa ini kaya akan peninggalan sejarah candi. Lebih spesifiknya, candi-candi tersebut banyak sekali terdapat di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Lantas bagaimana dengan Jawa Barat? Mengapa di daerah tersebut sangat minim candi?

Di daerah Jawa Barat memang ada sisa sisa bangunan candi bercorak Hindu dan Buddha. Namun jumlahnya tidak sebanyak di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Selain itu, candi-candi yang ditemukan ini juga terbilang tidak utuh namun sudah hancur. Mengapa candi disana banyak yang hancur dan tidak terurus?

Terdapat dua alasan logis mengapa masyarakat Sunda kuno tidak mengenal bangunan candi sebagai tempat pemujaan.

Faktor sosial dan ekonomi masyarakat Sunda kala itu adalah sebagai peladang. Sementara peladang ini diketahui berpindah-pindah tempat. Hal ini menjadikan mereka tidak sempat untuk membangun, memelihara, dan melakukan kegiatan ritual di candi.

Mereka lebih memilih untuk berpindah-pindah demi membuka hunian dan ladang baru. Kemudian faktor keduanya yaitu karena sistem keagamaan dan sistem kepercayaan.

Masyarakat Sunda kuno tidak mengenal agama Hindu dan Buddha secara menyeluruh. Mereka hanya mengenal hakikat atau konsep tertinggi keagamaan berupa satu zat yang tak terindra.

Masyarakat Sunda menyebutnya sebagai Sang Hyang Jati Niskawa atau Jati Raga atau Jati Nistemenen. Artinya, Sang Hyang Jati Tunggal atau Tuhan Yang Maha Esa.

Ada pun dewa-dewa dalam kepercayaan Hindu dan Buddha, hanya dianggap sebagai Hyang yang kedudukannya berada di bawah zat tertinggi dan tidak terindra tersebut. Sistem kepercayaan ini disebut Sunda Wiwitan. Bahkan, Sunda Wiwitan masih dipeluk dan ritualanya dipraktikkan oleh masyarakat Sunda sampai saat ini.

Yang paling dikenal adalah pengamal Sunda Wiwitan di Cigugur, Kabupaten Kuningan. Fondasi kepercayaan Sunda Wiwitan adalah keyakinan terhadap Sang Hyang Jati Tunggal atau Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan ada tetapi tidak terindra.

Maka dari itu, masyarakat Sunda penganut kepercayaan Sunda Wiwitan tidak mengenal bangunan-bangunan pemujaan simbolik seperti candi, patung, dan lain-lain.

 

 

KA For GAEKON