Bahlil Sebut BBM Industri Harganya Ikuti Harga Pasar: itu pasti orang mampu yang beli

0

Bahlil Sebut BBM Industri Harganya Ikuti Harga Pasar: itu pasti orang mampu yang beli

Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi diisukan naik 10 persen per hari ini, 1 April 2026 pukul 00.00.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia angkat bicara perihal isu tersebut. Menurutnya, BBM industri akan terus mengikuti harga pasar.

“Di Peraturan Menteri ESDM tahun 2022, itu telah mengatur dua formulasi tentang harga BBM. Satu harga BBM industri dan satu non-industri. Kalau yang industri, tanpa diumumkan pun dia terus terjadi berdasarkan harga pasar,” ujar Bahlil, dikutip dari Kompas, Rabu (1/4/26).

BBM industri yang Bahlil maksud adalah seperti bensin RON 95 dan RON 98, yang biasanya dibeli oleh orang-orang mampu. BBM industri tersebut harganya pasti akan mengikuti harga pasar, baik diumumkan maupun tidak.

“Itu kan orang-orang yang mampulah, seperti, mohon maaf, contoh Pak Rosan, Pak Seskab masa pakai minyak subsidi ya kan?” tuturnya.

“selama ada uang untuk bayar monggo. Tugas negara menyiapkan, yang membayar mereka. Itu tidak ada tanggungan negara sama sekali,” tambahnya.

Sebagai informasi, BBM yang mengalami kenaikan harga merupakan jenis non-subsidi di mana mengikuti perkembangan pasar minyak dunia karena adanya gejolak di Timur Tengah.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” jelas ekonom Universitas Airlangga (Unair), Wisnu Wibowo, Senin (30/3/26).

Wisnu meyakini kenaikan harga BBM non-subsidi tidak lebih dari 10 persen. Menurutnya, acuan dari Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus yang memonitor rutin perkembangan harga minyak dunia menjadi tolok ukurnya.

Sebelumnya harga BBM non-subsidi di Indonesia, untuk Pertamax Rp 12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) Rp 12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp 13.100 per liter.

Untuk jenis solar non-subsidi, harga Dexlite naik Rp 14.200 per liter dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter. Sementara BBM subsidi Pertalite Rp 10.000 per liter dan solar Rp 6.800 per liter.

 

 

KA For GAEKON