Jadi Alat Tulis Populer, Ini Asal Usul Pensil

0
Pensil
Sumber Foto: AGOAGA

Gaekon.com – Pensil menjadi salah satu alat tulis yang digunakan untuk saat ini. Alasan bisa dihapus apabila terjadi kesalahan sast menulis inilah yang membuat banyak orang lebih memilih pensil daripada alat tulis lainnya.

Siapa saja pasti pernah menemui alat tulis pensil, lantaran sangat dekat dengan kita.

Namun meskipun kita sering menemuinya, apakah kalian tahu bagaimana sejarah dan asal usul dari alat tulis pensil ini?

Pensil atau potlot adalah suatu alat tulis dan lukis yang pada awalnya terbuat dari grafit murni. Pada awalnya penulisan dengan menggunakan grafit ke atas media tulis. Namun grafit murni cenderung mudah patah dan memberikan efek kotor pada saat bergesekan dengan tangan.

Kemudian diciptakanlah campuran antara grafit dan tanah liat agar komposisinya lebih keras, hingga akhirnya komposisi campuran ini dibalut oleh kertas atau kayu.

Pada zaman prasejarah, manusia menggunakan batu untuk menulis. Dimana batu tersebut dibuat runcing dan kemudian dipakai untuk menulis.

Media yang mereka pakai merupakan dinding-dinding gua tempat mereka tinggal. Batu tersebut diasah agar ujungnya tajam.

Penggunaan timbal dan grafit sudah dimulai sejak zaman Yunani. Keduanya memberi efek goresan abu-abu, walaupun grafit cenderung lebih sedikit hitam.

Grafit jarang digunakan hingga pada tahun 1564, ditemukan kandungan grafit murni dalam jumlah besar di Borrowdale, sebuah lembah di Lake District, Inggris. Meskipun bentuknya terlihat seperti batu bara, mineral tersebut tidak mudah terbakar, dan mudah untuk dihapus diatas permukaan yang sudah ditulisi.

Pada masa inilah istilah grafit disalah artikan menjadi timah hitam, dan plumbago yang artinya seperti timah. Karena itulah lead pencil (pensil timah) masih digunakan sampai sekarang.

Karena memiliki tekstur yang berminyak, bongkahan grafit akhirnya dibungkus dengan kulit domba atau potongan kecil timah berbentuk tongkat yang dibalut dengan tali.

Tahun 1779 seorang ahli kimia, Carl W. Scheele meneliti dan menyimpulkan bahwa grafit memiliki sifat kimiawi yang jauh berbeda dari timbal. Grafit merupakan komposisi molekul karbon murni yang lunak. Hingga pada akhir 1789, ahli geologi Jerman, Abraham G. Werner memberikan nama grafit, yang berasal dari bahasa Yunani graphien, yang memiliki arti menulis.

Selama bertahun-tahun, grafit dari Inggris memonopoli pasar industri pembuatan pensil, akibat grafit Eropa dianggap kurang bermutu, pabrik-pabrik disana pun akhirnya bereksperimen dengan berbagai cara untuk memperbaiki isi pensil.

Insinyur Prancis, Nicholas Jacques Conte mencampur bubuk grafit dengan tanah liat, membentuknya menjadi batang, dan membakarnya di perapian. Dengan mengubah-ubah perbandingan grafit dengan tanah liat, akhirnya ia dapat membuat pensil dengan berbagai gradasi warna hitam.

Pada abad ke-19, bisnis pembuatan pensil menjadi berkembang, grafit mulai ditemukan di beberapa tempat, termasuk Siberia, Jerman, dan Republik Ceko. Kemudian beberapa pabrik dibuka di Amerika Serikat, dengan mekanisasi produksi massal dan menekan harga. Pada awal abad ke-20, anak-anak sekolah mulai menggunakan pensil.

Pada awalnya pensil grafit diberi balutan kertas yang dirobek sesuai dengan keinginan dari pemakainya. Namun pada akhirnya ditemukan cara yang lebih efisien dengan menyelimuti seluruh batang grafit dengan dua bilah kayu yang ditoreh untuk menyediakan tempat bagi batang grafit lalu kemudian disatukan kembali.

Pada 30 Maret 1858 Hymen Lipman dari Philadelphia, Pennsylvania, Amerika Serikat mulai mematenkan pensil yang memiliki ujung penghapus. Namun kemudian hak paten itu dibatalkan dengan alasan tidak adanya penemuan baru dari pensil tersebut, hingga ditemukannya peraut pensil mekanik pada tahun 1880 dan dengan cepat menjadi sangat populer.

 

KA For GAEKON