Kenapa Becak Rodanya Hanya 3?

0
Becak
Sumber Foto: technojogja.com

Gaekon.com – Alat transportasi becak rupanya sudah sangat familiar di Indonesia. Transportasi ini biasanya digunakan untuk bepergian jarak dekat, pasalnya becak sama seperti sepeda, sehingga hanya dikayuh.

Meski kini sudah banyak becak mesin, namun keberadaan becak kayuh masih terus dilestarikan. Kalian pasti sudah pernah mencobanya, walaupun tidak sering.

Sensasinya menikmati pemandangan di atas becak tak bisa ditandingi dengan alat transportasi lainnya. Namun, tahukah kalian bagaimana asal usul adanya becak ini? dan mengapa becak hanya beroda 3?

Asal Mula Adanya Becak

Becak dari bahasa Hokkien: be chia “kereta kuda” adalah suatu moda transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia.

Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi. Masuk ke Indonesia pertama kali pada awal abad ke-20 untuk keperluan pedagang Tionghoa mengangkut barang.

Tertulis dalam Star Weekly di tahun 1937, becak dikenal dengan nama “roda tiga” dan kata betjak/betja/beetja baru digunakan pada 1940 ketika becak mulai digunakan sebagai kendaraan umum.

Jumlah becak justru meningkat pesat ketika Jepang datang ke Indonesia pada 1942. Kontrol Jepang yang sangat ketat terhadap penggunaan bensin serta larangan kepemilikan kendaraan bermotor pribadi menjadikan becak sebagai satu-satunya alternatif terbaik moda transportasi di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya.

Becak setelah berkembang di Batavia/Jakarta kemudian berkembang ke Surabaya pada tahun 1940. Pada pertengahan hingga akhir 1950-an ada sekitar 25.000 hingga 30.000 becak di Jakarta. Jumlah becak membengkak dan pada tahun 1966 jumlah becak ada 160 ribu –jumlah tertinggi dalam sejarah.

Becak Bentuk Kesetiaan Suami

Asal usul becak versi lain juga masih banyak, salah satunya yaitu berawal dari sebuah bentuk kesetiaan seorang suami kepada istrinya.

Pada Tahun 1865, seorang misionaris Amerika, Jonathan Goble berupaya membuat sebuah alat bantu jalan untuk istrinya, Eliza Weeks. Istrinya mengalami kelumpuhan, ide itu muncul saat Goble jalan-jalan di Yokohama, Jepang.

Ia menggambar sketsa kereta kecil tanpa atap di atas selembar kertas. Sketsa tersebut dikirimkan kepada seorang sahabatnya, Frank Pollay. Rancangan tersebut lalu diserahkan ke seorang pandai besi bernama Obadiah Wheeler.

Jadilah sebuah kendaraan yang ditarik oleh tenaga manusia. Orang-orang Jepang menyebutnya Jinrikisha. Keberadaan jinrikisha menarik perhatian sejumlah bangsawan di Jepang.

Sejak 1870, pemerintah Jepang memberikan lisensi kepada tiga orang Jepang: Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke untuk membuat jinrikisha. Popularitas jinrikisha menyeberang ke kota-kota di daratan China. Melintasi Asia Selatan (India), Asia Tenggara, bahkan hingga ke Afrika Selatan.

Dalam perkembangannya, jinrikisha tak lagi dioperasikan dengan cara ditarik melainkan dikayuh (cycle-rickshaw).

Di Indonesia, jinrikisha mengalami modifikasi. Berawal dari seorang Seiko-san, pemilik toko sepeda di Makasar. Ia modifikasi jinrikisha menjadi alat transportasi roda tiga.

Modifikasi tersebut dilakukan, karena penjualan sepeda angin miliknya mengalami hambatan dan penumpukan. Ia memutar otak agar tumpukan sepeda yang tak terjual bisa berkurang dan terciptalah sebuah alat transportasi baru beroda tiga.

Kenapa Becak Beroda 3?

Seperti yang kita tahu becak adalah salah satu alat transportasi beroda 3. Nah, meskipun terlihat sepele, tahukah kalian kenapa becak ini hanya beroda 3? Kenapa tidak 4 seperti layaknya mobil ataupun 2 seperti sepeda motor?

Semakin banyak rodanya, maka dragnya akan semakin besar, sehingga semakin berat ngayuhnya. Dan semakin kurang lincah. Begitupun sebaliknya, semakin sedikit rodanya, dragnya semakin rendah, sehingga semakin tidak stabil.

 

KA For GAEKON