Delapan atlet federasi panjat tebing Indonesia (FPTI) menggemparkan media sosial usai mereka mengaku mendapatkan perilaku kekerasan dan pelecehan seksual dari pelatih.
Delapan atlet tersebut diantaranya adalah lima putra dan tiga putri. Pelatih yang dimaksud adalah Hendra Basir.
Hendra merupakan pelatih kepala tim nasional FPTI. Hendra sempat mendampingi Veddriq Leonardo meraih emas Olimpiade 2024.
Atas kegaduhan yang terjadi itu, FPTI menghentikan sementara Hendra sebagai pelatih kepala.
Surat keputusan pun dibuat dan dilayangkan ke Hendra untuk proses investigasi. Dalam melakukan investigas, FPTI membentuk tim pencari fakta.
Sekretaris Umum FPTI Wahyu Pristiawan menyebut Hendra dinonaktifkan selama proses pencarian fakta.
“Jadi, sesuai surat keputusan organisasi, Hendra Basir diberhentikan sementara sampai dengan ada keputusan dari TPF [tim pencari fakta] yang telah dibentuk,” kata Wahyu, Selasa (24/2), dikutip dari CNN, Senin (2/3/26).
Sehari setelahnya, Rabu (25/2), Hendra membuat pernyataan klarifikasi. Hendra membantah melakukan kekerasan dan pelecehan seksual ke sejumlah atlet panjat tebing, seperti dituduhkan.
“Pada intinya, kalau dugaan kekerasan dan pelecehan, saya tidak tahu konteksnya seperti apa, karena sampai detik ini belum ada klarifikasi dari federasi,” kata Hendra.
“Yang membuat drop ini kan, tindakan pelecehan seksual. Itu yang saya sampai saat ini tidak habis pikir. Tindakan ini di-framing-nya seakan-akan ada ajakan hal-hal aneh atau mesum. Itu fitnah.” Tambahnya.
Namun, Hendra sempat membenarkan bahwa dirinya pernah memeluk atlet putri. Itu dilakukan pada momentum tertentu. Sementara soal kekerasan, ia menyebut metode latihannya memang keras.
“Jadi yang saya lakukan sifatnya situasional di latihan dan kompetisi. Contoh, performanya tidak tampil dan atlet kecewa. Atlet saya marahi, biasanya atlet itu nangis.” Sebutnya.
“Di situ saya peluk dan cium kening serta ubun-ubun. Itu semata-mata untuk penguatan ke atlet dan hal serupa saya lakukan ke anak setelah salat dan antar sekolah,” sambungnya.
Mengenai persoalan ini, Ketua Umum FPTI Yenny Wahid menegaskan komitmen organisasi tidak memberi toleransi soal pelecehan dan kekerasan kepada atlet.
“Saya selaku Ketua Umum PP FPTI telah menerima laporan dugaan pelanggaran etik dan langsung bergerak cepat untuk melindungi para atlet,” kata Yenny.
“Saya berkomitmen untuk melindungi semua korban serta menegakkan prinsip zero tolerance terhadap tindakan pelecehan seksual maupun kekerasan fisik,” ujarnya menegaskan.
KA For GAEKON




