Lonjakan harga minya mentah dunia semakin menjadi. Kini sudah menyentuh angka di atas USD 100 per barel.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut bahwa pihaknya berkomitmen untuk mempercepat program campuran BBM dengan bioetanol dan biodiesel.
Bahlil berencana untuk mempercepat kewajiban campuran etanol 20 persen ke dalam BBM (E20), yang sebelumnya dimandatorikan pada 2028.
“Kita akan mempercepat penerapan E20, etanol. Karena kalau harga minyaknya fosil bisa melampaui 100 USD per barrel, maka itu lebih murah,” ujar Bahlil.
Selain E20, Bahlil juga bakal mempercepat implementasi program B50. Sebagai bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen BBM jenis solar dan 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit (FAME).
“Kita akan blending untuk diesel itu dari B40 sekarang menjadi B50. Kita bikin mandatory untuk bensin dan itu lebih bersih. Jadi ada beberapa langkah-langkah yang akan kita lakukan,” ungkapnya.
“Sudah barang tentu, dengan kondisi yang ada, maka pemerintah berpikir untuk mencari alternatif-alternatif baik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” dia menegaskan.
Jelang Lebaran ini, Bahlil menjamin harga BBM, khususnya BBM subsidi semisal Pertalite (RON 90) aman.
Meskipun, harga minyak mentah dunia kini semakin melonjak mendekati USD 120 per barel.
Bahlil tidak memungkiri bahwa harga minyak dunia kini semakin melesat melampaui level USD 100 per barel. Itu terjadi akibat dampak daripada perang di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran.
“Problemnya kita sekarang bukan di stok, stok enggak ada masalah, sudah ada semuanya. Kita itu sekarang tinggal di harga,” ujar Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada kesempatan sama.
Kendati begitu, Bahlil menjamin pemerintah bakal melakukan sejumlah langkah komprehensif demi memitigasi kenaikan harga minyak mentah dunia. Sehingga ia mengajak masyarakat agar tidak turut khawatir terhadap lonjakan harga BBM.
KA For GAEKON




