Dalam minggu ini kembali kita harus larut dalam suasana duka. Kita kehilangan ulama kharismatik bangsa KH Maimun Zubair yang berpulang saat melaksanakan ibadah haji. Mbah Moen sapaan akrab beliau, wafat pada waktu subuh di RS An Noor, Kudai Mekah. Jenazah Mbah Moen dimakamkan di Ma’la. Komplek pemakaman tertua itu adalah tempat  sebagian besar keluarga dan sahabat Nabi Muhammad SAW dimakamkan.

Semasa hidup Mbah Moen punya sejumlah keinginan dalam terkait kematiannya. Pada menantunya KH Zuhrul Anam Hisyam atau Gus Anam beliau berkeinginan untuk meninggal pada hari selasa. Sebab menurutnya, biasanya orang berilmu itu meninggal pada hari selasa.

Tokoh NU kelahiran 28 Oktober 1928 (90 tahun) itu juga ingin meninggal pada saat berhaji. Beliau berwasiat kalau suatu hari nanti meninggal dunia di Mekah mohon dimakamkan di Ma’la.  Rupanya segala keinginan semasa hiduo itu diijabah oleh Allah SWT. Mbah Moen wafat pada Selasa (6/8) di Mekah pada saat berhaji dan dimakamkan di Ma’la. Masya Allah, begitu indah. Mungkin ada beberapa dari kita yang hati kecilnya tidak sepenuhnya sedih, tapi malah iri, bukan begitu?

Tentu tak sembarang orang yang bisa seperti maqom kematian Mbah Moen. Kiranya beliau bisa seperti itu lantaran jalan lantaran jalan hidup KH Maimun Zubair semasa hidupnya yang betul-betul memegang teguh prinsip istiqomah atau konsistensi.

Beliau memang dikenal sebagai ulama yang istiqomah dalam menunaikan ibadah. Contohnya adalah dalam hal ibadah haji. Meski bagi seorang muslim wajib melaksanan haji sekali seumur hidup, beliau melaksanakannya tiap tahun. Tidak perlu baper dengan cara beribadah haji Mbah Moen yang seperti itu.

Yang perlu dicatat adalah, bagaimana beliau berhaji tiap tahun tapi tidak dengan cara mendholimi orang lain. Beliau tidak mendahului antrean orang yang sudah daftar bertahun-tahun karena memang tidak menggunakan porsi regular pemerintah Indonesia. Namun beliau justru mendapat undangan langsung dari pemerintah Arab Saudi. Pernah pula suatu waktu dia menggunakan visa pekerja untuk bisa berhaji.

Bagi beliau, pengabdian pada Tuhan ditunjukkan melalui sikap istiqomah. Ibadah harus dilakukan berulang dan terus-menerus. Selain haji, Mbah Moen juga istiqomah dalam segala macam ibadah baik sholat, zakat, puasa, dan infaq. 

Nasihat tentang istiqomah semasa hidup beliau wanti-wantikan betul pada santri di Pondok Pesantren al-Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah. “Santri kalau sudah pulang kampung dari tempat belajar atau pondok pesantren harus berani istiqomah”.

Ulama Fiqih Ternama

Mbah Moen dikenal sebagai figur ulama yang memiliki kedalaman ilmu. Khusnya di bidang ilmu fiqih dan Ushul Fiqih. Selain itu, dia juga memiliki segudang karya kitab agama. Beberapa karyanya antara lain kitab Nushushul Akhyar, Nushushul Akhyar, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniah bi Sarang Al-Qudama’, Al-Ulama’ Al-Mujaddidun, Kifayatul Ashhab, Maslakuk Tanasuk, Taqirat Badi Amali, dan Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.

Capain tersebut memang tidak terlepas dari lingkungan sekitar Mbah Moen yang hidup dalam kultur santri. Mbah Moen merupakan anak pertama dari ulama kenamaan Kiai Zubair Dahlan. Sedangkan ibunya Nyai Mahmudah adalah putrid dari Kiai Ahmad bin Syu’aib pendiri Ponpes al-Anwar yang nantinya diasuh oleh Mbah Moen.

Beliau dididik secara langsung oleh sang ayah. Sejak kecil memang beliau sudah akrab dengan pelajaran agama. Pada umur 17 tahun Mbah Moen muda sempat mondok di Lirboyo Kediri dibawah asuhan Kiai Haji Abdul Karim atau Mbah Manab, Kiai Mahrus Ali dan Kiai Marzuki. Pada usia remaja beliau sudah hafal beberapa kitab seperti al-Jurumiyyah, al-Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharot Tauhid, Sullamul Munauroq dan sebagainya.

Memasuki usia 21 tahun bersama sang kakek Kiai haji Ahmad bin Syuaib, beliau pergi menuntut ilmu ke Mekah. Beberapa ulama yang didatanginya atas ajakan sang kakek diantarnya, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly, Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh Yasin Isa al-Fadani dan Sayyid Amin al-Quthbi.

Usai kepulangannya ke nusantara Mbah Moen juga terus menimba ilmu. Beliau terus mengunjungi alim-ulama di Pulau Jawa, seperti Kiai Ma’shum, Kiai Bisri Musthofa, Syekh Abul Fadhol Senori, Kiai Abdullah Abbas Buntet dan Kiai Baidhowi yang menjadi mertuanya.

Politikus Teduh

Tidak sekedar sebagai tokoh agama, Mbah Moen juga adalah figure politikus handal. Dalam wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) beliau aktif berkiprah. Karir politik beliau pada mulanya diawali pada kurun 1971-1978 sebagai anggota dewan di DPRD Rembang. Di tahun 1987 Mbah Moen melenggang ke Senayan sebagai Anggota MPR-RI mewakili fraksi utusan daerah. Selepas masa baktinya berakhir di tahun 1999, beliau pun kembali ke Rembang.

Di tengah sikap politikus yang kian pragmatis dengan berpindah partai, beliau tetap konsisten bersama PPP. Sejak orde baru hinga wafatnya Mbah Moen masih di gerbong yang sama. Posisi terakhir beliau adalah Ketua Majelis Syariah PPP sejak 2004.

Pada saat orde baru tumbang, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus berniat mendirikan PKB pada 1998. Mbah Moen yang merupakan sesepuh NU menolak pindah gerbong ke PKB. Namun hubungan beliau dengan PKB tetap sejuk. Awal reformasi sempat diwarnai ketegangan anata PKB dan PPP yang bertikai. Mbah Moen berhasil menjadi tokoh penengah pertikaian itu.

Catatan lain peran Mbah Moen sebagai penengah konflik misalnya ketika ada rebut-ribut kubu PPP Romahurmuziy dengan Djan Faridz. Pengaruh dan kharisma beliau membuat konflik surut dan justru berbuah islah antar keduanya.

Banyak tokoh nasional dan tokoh pilitik yang menjadikannya jujukan sowan untuk meminta restu atau sekedar silaturahim, apalagi sewaktu hajatan politik. Bukan Mbah Moen namanya kalau sampai terseret politik pragmatis. Beliau mengajarkan bagaimana sikap politik yang elegan tanpa harus memicu polarisasi.

Sewaktu Pilgub Jawa Tengah 2018, dua calon gubernur baik Ganjar Pranowo dan Sudirman Said sama-sama sowan Mbah Moen. Keduanya sama-sama berniat meminang anak Mbah Moen sebagai calon wakil gubernur. Ganjar hendak meminang Taj Yasin Maimun atau Gus Yasin. Sedangkan Sudirman Said hendak merangkul Majid Kamil Maimun atau Gus Majid, namun pasangan ini batal terjadi dan konstestasi dimenangkan oleh pasangan Ganjar-Gus Yasin.

Teladan politik anti kisruh itu pun juga dicontohkan Mbah Moen pada saat bursa pilpres. Pada 2014 dukungan beliau alamtkan pada Prabowo, sementara pada 2019 dukungan beliau alamatkan pada Jokowi.

Meski ada perbedaan, yang perlu menjadi catatan adalah bagaimana politik harus menjadi suatu hal yang teduh. Politik untuk harmoni adalah contoh nyata dari beliau untuk para politikus saat ini. Bahwa perbedaan pandangan politik bisa disikapi secara santuy. Tanpa perlu perang urat saraf, tanpa perlu politik post-truth yang memecah belah persatuan bangsa.

K for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here