Berada di Italia di Tengah Wabah Corona

    2

    Sebagaimana diketahui, Italia sejauh ini adalah negara kedua dengan jumlah infeksi Covid-19 terbesar di dunia setelah China. Sampai saya membuat tulisan ini (11/3/2020), total telah ada 12.462 kasus, dengan jumlah kasus aktif sebanyak 10.590 positif terinfeksi, 827 meninggal dunia, dan 1.045 orang telah dinyatakan sembuh.

    Sebagai orang yang saat ini tinggal di Italia, saya hendak membagikan pengalaman dan pengetahuan saya terkait apa dan bagaimana Italia saat ini menghadapi wabah yang oleh WHO sudah dinyatakan sebagai wabah pandemik (wabah global) ini. Mudah-mudahan bermanfaat, khususnya bagi masyarakat di Indonesia yang saat ini masih memiliki jumlah kasus yang terbatas dan nampaknya masih terkontrol dengan baik.

    Ada beberapa poin yang akan saya bahas di sini. Pertama, soal bagaimana wabah ini bermula di Italia. Kedua, soal mengapa jumlah angka infeksi yang begitu besar, termasuk angka kematian (mortality rate) yang juga besar, yakni 6,5%, jauh mengalahkan China yang hanya sebesar 3,9% dengan jumlah total kasus yang mencapai 80.700 lebih. Ketiga, soal mengapa wabah ini menjadi cenderung sulit dikendalikan di Italia. Keempat, soal langkah-langkah apa saja yang diambil oleh Pemerintah Italia dalam usahanya menghadapi wabah ini. Kelima, soal bagaimana keadaan warga di sini dan khususnya para WNI di Italia.

    Namun, sebelum saya memaparkan satu per satu, perlu saya tegaskan bahwa ini sama sekali bukanlah sebuah gambaran resmi terlebih lagi gambaran dari perspektif medis. Ini hanyalah pengamatan saya selaku warga biasa yang kebetulan karena keperluan studi menjadi penduduk sementara di Italia. Namun begitu, data yang saya sajikan di sini tidak saya karang sendiri, melainkan saya ambil dari sumber-sumber yang menurut saya cukup bisa diandalkan.

    PERTAMA, soal bagaimana wabah di Italia dengan jumlah sebegitu besar tersebut bisa bermula. Jawabannya adalah: TIDAK DIKETAHUI. Bahwa infeksi Coronavirus di Italia dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama adalah yang terjadi pada bulan Januari di Roma. Untuk kasus ini, infeksi yang terjadi menimpa dua orang turis asal China. Mereka langsung dirawat dan diisolasi di R.S. khusus di Roma dan sudah dinyatakan sehat dan keluar R.S. pada tanggal 26 Februari. Adapun yang menjadi misteri adalah untuk kasus pada gelombang kedua. Tiba-tiba saja, pada tanggal 18 Februari, ditemukan kasus positif Corona di kota kecil bernama Codogno, di Propinsi Lodi, region Lombardy. Padahal, orang yang terinfeksi ini tidak memiliki riwayat perjalanan ke China sama sekali. Hanya saja konon ia sempat bertemu kolega kerjanya yang memang baru pulang dari China, namun si kolega tersebut sudah menjalani tes Corona dan dinyatakan negatif.
    Begitu pula kasus lainnya yang terjadi di region Veneto tempat kota Venice/Venezia berada. Juga tiba-tiba saja ada positif Corona, tanpa ada sama sekali riwayat bepergian ke China ataupun berinteraksi dengan orang yang baru tiba dari China.
    Dari hasil riset menunjukkan bahwa genetik virus dari pasien yang ada di Italia adalah berbeda dengan virus yang ada pada pesien dari China pada infeksi gelombang pertama. Maka hal ini mengarahkan pada dugaan bahwa sesungguhnya virus Corona telah ada lama di Italia jauh sebelum berhasil diketahui. Ini menguatkan temuan bahwa virus Corona bisa berada di tubuh manusia dan berpotensi menular ke orang lain walau TIDAK ADA GEJALA sama sekali.
    Terlebih, walaupun ketika begitu ditemukan tiga kasus positif Corona kota Codogno langsung di-lockdown, kasus positif lainnya langsung ditemukan di kota-kota lain di sekitarnya. Sehingga, lockdown pun menjadi diperluas di kota-kota tersebut di Propinsi Lodi. Dari sini bisa terlihat bahwa hipotesis virus ini sesungguhnya sudah menyebar sebelum diketahui semakin terkuatkan.

    KEDUA, soal mengapa angka infeksi dan kematian begitu besar. Sejak ditemukannya kasus-kasus awal di gelombang kedua ini, tes besar-besaran langsung dilakukan oleh Pemerintah Italia. Tentu, ini berdasarkan pelacakan berantai dari kasus-kasus awal yang sudah dinyatakan positif.

    Salah satu sumber menyatakan bahwa hingga 11 Maret 2020, tercatat telah dilakukan tes pada lebih dari 42.000 orang. Semakin banyak tes dilakukan secara otomatis semakin banyak hasil positif ditemukan, dan memang itulah tujuan dilakukannya tes secara masif tersebut. Untuk membuka fakta yang sesungguhnya. Namun, jumlah ini masih kalah jauh dengan Korea Selatan yang telah melakukan tes sebanyak lebih dari 200.000 kali, 15.000 per hari! . Masih relatif “kecil” nya jumlah tes ini lah yang konon dianggap menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada peningkatan dan penyebaran kasus infeksi yang terus meningkat. Oleh karena itu, pelaksanaan TES secara MASIF nampaknya menjadi faktor penting dalam rangka menekan jumlah penambahan dan penyebaran infeksi Coronavirus.
    Adapun soal angka mortalitas yang tinggi, yakni sebesar 6,5% (yang sangat mungkin bisa lebih tinggi lagi), salah satu faktornya adalah fakta demografi yang ada di mana mayoritas penduduk Italia adalah ORANG-ORANG TUA. 23% dari penduduk Italia berusia di atas 65 tahun, dan usia termuda dari orang yang meninggal dunia akibat Covid-19 di Italia sejauh ini adalah 55 tahun.

    KETIGA, soal mengapa wabah Coronavirus di Italia cenderung sulit dikendalikan. Di uraian sebelumnya di atas sudah disinggung beberapa faktor yang ikut berkontribusi pada hal ini. Namun, ada satu juga faktor penting yang turut membuat pengendalian wabah Corona di Italia cenderung sulit dilakukan sehingga memaksa Pemerintah Italia mengeluarkan kebijakan sangat ekstrim dengan menetapkan seluruh negeri menjadi zona merah. Faktor tersebut adalah HABIT atau kebiasaan.
    Sebagaimana bisa dilihat dari pernyataan Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte dalam mengeluarkan kebijakan penetapan zona merah Coronavirus secara nasional, satu hal yang disoroti oleh sang P.M. adalah adanya habit dari masyarakat yang cenderung menggampangkan masalah, meremehkan situasi yang tengah terjadi, dan tetap melakukan kegiatan-kegiatan seperti biasa namun yang berpotensi meningkatkan jumlah infeksi dan penyebarannya, khususnya berkumpul bersama dalam jumlah besar di tempat-tempat umum sepeti bar, piazza (alun-alun), dan semacamnya.
    Sebagaimana diketahui, orang Italia adalah masyarakat dengan karakter yang hangat dan mereka sangat gemar ngobrol dan bersosialisasi. Ibaratnya, mereka ini adalah “orang Indonesia-nya Eropa”. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Masalahnya adalah, kebiasaan tersebut tidak diimbangi dengan kesadaran akan krisis yang terjadi. Sehingga, walau sejak tanggal 5 Maret seluruh sekolah dan kampus-kampus di Italia diliburkan, dan kemudian per tanggal 8 Maret seluruh wilayah dalam region Lombardy telah dinyatakan sebagai red zone dan di-lockdown, namun masih banyak sekali orang-orang yang melakukan kebiasaan seakan keadaan sedang baik-baik saja. Akibatnya, angka pertambahan jumlah kasus infeksi baru justru kian melonjak. Bahkan, sehari setelah penetapan Lombardy sebagai zona merah, pada tanggal 9 Maret justru terjadi lonjakan penambahan kasus baru secara luar biasa yakni sebesar 1797 kasus baru dalam sehari, dan melambungkan prosentase kematian ke 6% (jauh melebihi China yang sejauh ini hanya 3,8%)! Inilah yang kemudian mendorong Pemerintah melalui P.M. langsung pada malam harinya mengeluarkan kebijakan baru yang memperluas zona merah dan melakukan lockdown secara nasional. Hal yang lebih parah lagi terjadi saat tulisan ini dibuat. Pada tanggal 11 Maret, tercatat terdapat 2313 kasus baru dan kematian sebanyak 196 dalam sehari, meningkatkan mortality rate menjadi 6,6%!.

    KEEMPAT, soal langkah-langkah kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintah Italia dalam menghadapi wabah Corona. Begitu ditemukan kasus infeksi pada gelombang pertama di Italia, yakni yang menimpa sepasang turis asal China pada bulan Januari, kedua orang tersebut langsung dirawat di Rumah Sakit khusus bernama Spallanzani Institute yang memang dikhususkan untuk merawat penyakit infeksi menular. Hotel tempat mereka menginap di Roma pun sempat disegel dan ditutup sementara untuk dilakukan sterilisasi.

    Begitu pula dengan arus masuknya orang ke Italia. Pemerintah Italia sejak akhir Januari sudah menetapkan menutup sementara penerbangan langsung dari dan ke China. Namun terbukti, kebijakan restriksi penerbangan sama sekali tidak efektif dalam mencegah penyebaran virus Corona. Justru banyak pihak menilai, dengan penutupan penerbangan langsung dari dan ke China ikut berkontribusi terhadap penyebaran wabah ini. Hal tersebut dikarenakan banyak turis yang memakai “jalur memutar”, seperti halnya memakai maskapai penerbangan ke Italia via jalur transit, ataupun masuk ke Italia melalui negara schengen lainnya.

    Sejak ditemukannya kasus infeksi Corona pada gelombang kedua, maka beberapa kota di wilayah region Lombardy dan satu kota di region Veneto dinyatakan sebagai zona merah dan dilakukan lockdown. Orang-orang dilarang pergi ke luar atau pun masuk ke wilayah ini. Namun sekali lagi, hal tersebut terbukti tidak efektif. Penambahan kasus baru dan penyebaran terus terjadi, dengan jumlah berlipat-lipat setiap harinya. Mulai dari 3 kasus pada hari pertama, lalu ditambah 13 kasus baru di hari kedua, lalu 63 kasus baru di hari ketiga, 78 kasus baru di hari keempat, 147 kasus baru di hari ketujuh, 566 kasus baru di hari kesebelas, hingga 1200 lebih kasus baru di hari ketujuh belas, dan seterusnya hingga sekarang tercatat total sudah melampaui 10.000 lebih kasus.
    Itulah mengapa, seperti sudah disinggung di atas, sejak 5 Maret seluruh SEKOLAH dan KAMPUS di Italia DITUTUP. Tujuannya adalah MEMINIMALISIR KEGIATAN BERKUMPUL dalam jumlah besar, yang memang berpotensi mempermudah penyebaran virus. Kegiatan belajar mengajar khususnya perkuliahan dilakukan secara on-line. BEGITU PULA dengan KEGIATAN KEAGAMAAN. Beberapa gereja katholik sudah meniadakan sementara kegiatan misa. Begitu pula dengan kegiatan shalat jumat.
    Untuk wilayah yang ditetapkan sebagai ZONA MERAH alias wilayah dalam status LOCKDOWN, maka diberlakukan ATURAN antara lain:

    1. MOBILITAS dan AKTIVITAS warga DIBATASI. Orang dihimbau sebisa mungkin TINGGAL DI RUMAH, kecuali untuk keperluan yang tak terhindarkan seperti pergi ke supermarket untuk membeli keperluan sehari-hari.
    2. Orang DILARANG pergi MENINGGALKAN WILAYAHNYA. Untuk pergi ke luar kota, warga hanya diperbolehkan jika memiliki alasan mendesak yang terkait dengan kesehatan dan/atau urusan pekerjaan yang memang mengharuskannya untuk itu. Itu pun harus dilengkapi dengan mengisi semacam surat pernyataan yang harus ditunjukkan pada petugas yang berjaga di perbatasan. Surat tersebut bisa didapatkan dengan mengunduh di website Kementrian Dalam Negeri Italia.
    3. Orang DILARANG BERKUMPUL dalam JUMLAH BANYAK di TEMPAT UMUM. Semua toko dan kegiatan komersil juga ditutup kecuali apotek dan supermarket. Tujuannya sekali lagi adalah mencegah potensi penularan dan penyebaran virus. Begitu pula dengan SEMUA EVEN seperti even olah raga, seni, dan segala jenis even lainnya yang sifatnya mengumpulkan orang dalam jumlah banyak, juga DITIADAKAN.
    4. Untuk soal berbelanja kebutuhan sehari-hari, diterapkan aturan PEMBATASAN ORANG di dalam area perbelanjaan. Ini dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya “rush” dan kekacuan di tempat-tempat perbelanjaan tersebut, dan sekaligus menjaga jarak aman antara satu orang dengan yang lainnya agar tidak membuka potensi penularan. Adapun SUPLAI barang-barang kebutuhan sehari-hari masih relatif NORMAL, KECUALI untuk masker dan hand-sanitizer yang memang sudah sulit didapatkan sejak awal-awal munculnya wabah ini pada akhir Februari lalu. Jujur, saya dan keluarga sampai detik ini tidak memiliki masker satu pun, karena mencari dua barang di atas memang sangat sulit. Adapun untuk hand-sanitizer, kami masih memiliki persediaan dari yang kami sudah miliki sebelum terjadinya wabah ini. Sebagai cadangan, kami terpaksa meracik hand-sanitizer sendiri, sembari menunggu suplai masker dan hand-sanitizer yang dijanjikan akan didatangkan dari Indonesia via KBRI Roma.
    5. Di TEMPAT-TEMPAT UMUM, termasuk di sarana TRANSPORTASI PUBLIK, diterapkan kebijakan pembatasan JARAK AMAN orang berinteraksi guna menghindari penularan virus, yakni antara 1,5-2 meter.

    Dengan adanya penetapan per 10 Maret yang menyatakan SELURUH WILAYAH di Italia sebagai ZONA MERAH, maka semua ATURAN DI ATAS diberlakukan kepada siapa saja secara NASIONAL. Akibatnya bisa dibayangkan, karena semua orang didorong untuk tinggal di rumah masing-masing, maka semua kota di Italia bagaikan kota mati. Jalanan di mana-mana menjadi sepi. Rencananya, ketetapan ini diberlakukan sampai 3 April 2020. Tentu saja semua pihak berharap, ketetapan ini benar-benar berakhir pada tanggal tersebut dengan asumsi penambahan dan penyebaran kasus infeksi baru Coronavirus bisa ditekan. Karena jika tidak, entah apa yang akan terjadi. Secara ekonomi, khususnya sebagai negara destinasi wisata dunia, Italia secara niscaya terpukul sangat-sangat dalam akibat kejadian ini. Terlebih lagi, sebelum adanya wabah ini pun perekonomian Italia memang tengah mengalami krisis dalam beberapa tahun terakhir. Kajadian wabah Covid-19 ini jelas akan semakin membawa perekonomian Italia terpuruk lebih dalam lagi.
    Sedangkan ATURAN yang diterpakan pada ORANG SAKIT, khususnya yang diduga merupakan gejala Covid-19 antara lain adalah sebagai berikut. Jika seseorang merasa memiliki gejala Covid-19, maka ia DILARANG langsung pergi ke Rumah Sakit. Hal yang harus dilakukan adalah melakukan kontak telpon ke dokter keluarga masing-masing, atau ke nomor telp terkait lainnya yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan guna mencegah penyebaran virus lebih jauh lagi secara tidak disengaja. Apa yang akan dilakukan terhadap si yang bersangkutan akan ditentukan berdasarkan kontak telpon tersebut. Jika memang diduga kuat telah terjadi infeksi Corona, maka petugaslah yang akan mendatangi si yang bersangkutan. Baik untuk mengambil sampel untuk di tes maupun, jika memang kondisi sudah serius, untuk dibawa ke rumah sakit. Untuk pasien yang dinyatakan POSITIF namun dengan GEJALA RINGAN, mereka tidak dirawat di rumah sakit melainkan diharuskan melakukan SELF-ISOLATION atau MENGISOLASI DIRI di RUMAH, alias dilarang keluar rumah sampai dinyatakan sembuh. Begitu pula bagi siapa saja yang merasa kurang sehat, sangat dihimbau untuk mengisolasi diri di rumah selama setidaknya 14 hari.

    KELIMA, mengenai keadaan warga di Italia, khususnya para WNI. Untuk keadaan warga Italia sendiri, seperti sudah disinggung sebelumnya, sejak awal terjadinya outbreak (wabah), tidak tampak ada kecemasan sedikit pun. Sebelum diberlakukannya lockdown secara nasional, seluruh kegiatan masyarakat (terkecuali kegiatan belajar mengajar yang sudah di-suspend sementara sejak tanggal 5 Maret) 100% berjalan seperti biasa. Umumnya mereka sudah memahami bahwa virus ini tidak seberbahaya -dalam konteks potensi kematian- virus penyakit lain seperti SARS, MERS, dan Ebola. Tetapi, seperti yang saya singgung di atas, “santai”-nya masyarakat dalam menghadapi hal ini juga turut berkontribusi pada penambahan dan penyebaran kasus baru yang cenderung tak terkendali, hingga memaksa Pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan paling ekstrim yang pernah ada dalam keadaan damai, yakni menerapkan lockdown untuk semua wilayah secara nasional.

    Jumlah WNI di Italia menurut data KBRI di Roma adalah sebanyak 3067 orang . Pada hari Selasa 10 Maret 2020, diadakan video conference bersama antara KBRI Roma dengan beberapa WNI di Italia, dan kebetulan saya sendiri ikut di dalamnya. Sejauh ini, BELUM ADA laporan WNI yang positif Corona di Italia. Untuk perkembangan ke depannya, KBRI menjanjikan untuk terus mengadakan video conference secara rutin disamping juga membuat grup WhatsApp khusus terkait Penanganan Covid-19 guna terus memantau dan memberikan update seputar wabah ini kepada para WNI. Dalam video conference tersebut, ibu Dubes yakni bu Esti turut terlibat aktif dan berbicara langsung dengan semua peserta.

    Dalam pandangan saya pribadi, hal ini adalah hal yang sangat baik karena selain membuka pintu komunikasi secara aktif dan efektif, juga memberikan pesan dan kesan bahwa Pemerintah RI tidak sekali-kali mengabaikan warganya di luar negeri.

    Dalam kesempatan video conference tersebut, ada beberapa hal yang ditanyakan oleh para peserta kepada pihak KBRI. Salah satunya adalah soal bagaimana jika ada WNI yang bermaksud PULANG KE TANAH AIR. Menjawab pertanyaan ini, dijelaskan bahwa mengingat kondisi lockdown secara nasional yang sudah diberlakukan, di mana secara praktis nyaris tidak ada lagi penerbangan komersil khususnya untuk penumpang dari dan ke Italia, maka hal tersebut akan SULIT DILAKUKAN. Setidaknya sampai jadwal lockdown ini diberlakukan yang rencananya hingga tanggal 3 April.

    Namun, berdasarkan perkiraan saya sendiri, jika seandainya kondisi tidak membaik sampai 3 April, tidak menutup kemungkinan masa lockdown nasional ini akan diperpanjang. Walau pada saat yang sama hal tersebut juga akan semakin membuat negara Italia semakin terpuruk lebih dalam lagi secara tak terkira, khususnya secara ekonomi karena praktis dengan adanya lockdown mayoritas kegiatan ekonomi menjadi berhenti total. Selain itu, seluruh fasilitas kesehatan, tenaga medis dan rumah sakit di Italia akan kian kuwalahan msnghadapi pertambahan pasien yang meningkat drastis setiap harinya. Terus terang, saya tidak bisa membayangkan seburuk apa keadaan yang bakal terjadi jika masa lockdown nasional ini harus diperpanjang, dan seluruh orang di Italia niscaya sangat tidak mengharapkan hal itu terjadi.

    Kembali ke isu keperluan kepulangan ke tanah air, bisa dipastikan bahwa selama dalam masa lockdown nasional seperti ini terutama jika nanti ternyata masa lockdown ini terus diperpanjang (yang tentu juga pertanda bahwa tingkat pertambahan dan penyebaran kasus baru infeksi Corona kian memburuk) , WNI siapapun tidak akan bisa pulang ke tanah air kecuali dengan mekanisme EVAKUASI. Namun, akan ada beberapa KESULITAN yang cukup serius jika opsi ini hendak dibuka. Pertama adalah JUMLAH WNI di Italia yang mencapai 3000 lebih. Kedua, posisi mereka yang TERSEBAR di berbagai kota dan region yang berbeda dan berjauhan satu sama lain. Ketiga, status LOCKDOWN NASIONAL yang membuat tidak diperbolehkannya seseorang untuk meninggalkan kota di mana ia tinggal kecuali dengan alasan darurat. Walaupun demikian, saya sendiri berkeyakinan bahwa semua kesulitan di atas khususnya yang ketiga bisa diatasi dengan nota diplomatik antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Italia, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Pemerintah RI ketika mengevakuasi WNI kita dari Wuhan yang juga berstatus lockdown. Hanya saja untuk kesulitan yang pertama dan kedua, memang diperlukan usaha lebih guna mensiasatinya.

    Itulah sejauh ini gambaran yang bisa saya berikan tentang keadaan di Italia di tengah amukan wabah virus Corona. Mohon doa dari kawan-kawan sekalian agar kami para WNI di Italia tetap diberikan kesehatan dan keselamatan. Sebagaimana kami di Italia juga mendoakan semoga Indonesia tidak menghadapi apa yang tengah dihadapi oleh Italia saat ini.
    Semoga Tuhan Semesta Alam mengabulkan doa kita semua. Amin, Rahayu, Rahayu, Rahayu….

    J FOR GAEKON