Nathan, 33, dan Salma, 31, (bukan nama sebenarnya) memutuskan menikah pada 2016 lalu. Keduanya sudah lama saling kenal karena rekan satu kantor di perusahaan telekomunikasi. Nathan yang menjabat manajer area di perusahaan itu memberanikan diri menikahi Salma yang menjadi bawahannya. Meskipun saat itu Salma yang berstatus janda beranak satu sudah bertunangan dengan pria lain. Sedangkan Nathan juga sudah berstatus duda tanpa anak.

“Salma dulu sudah tunangan tiga tahun tapi tidak dinikahi. Saya lalu menikahinya dengan komitmen memutuskan hubungan dengan tunangannya,” ujar Nathan.

Nathan ketika itu juga sempat mengantarkan Salma dari Surabaya ke Jakarta untuk memutuskan hubungan dengan tunangannya. Setelah itu, mereka akhirnya resmi menikah. Keduanya setelah menikah berkomitmen untuk tidak bermain media sosial (medsos) untuk menghindari perselingkuhan.

Seusai menikah, Salma mengundurkan diri dari kantor tempatnya bekerja. Dia lalu membuka usaha salon dan setahun terakhir berjualan melalui onlineshop. Aktivitas terakhir ini yang menuntutnya untuk kembali berhubungan dengan medsos.

“Saya tidak masalah kalau dia pakai medsos untuk pekerjaannya. Tapi, dari teman saya dapat cerita kalau dia suka komen-komenan dan chat-chat di IG (Instagram) dengan mantan tunangannya,” ujarnya.

Keduanya bertengkar. Salma kabur ke Jakarta. Nathan meyakini istrinya itu menemui mantan tunangannya. Dia cemburu. Namun, masih berusaha memperbaiki hubungan. Sepekan kemudian Salma pulang ke rumah dan hubungan kembali membaik.

Namun, prahara kembali terjadi awal tahun lalu saat usia pernikahan mereka memasuki tiga tahun. Keduanya merayakannya. Tapi, Salma tidak mengunggah foto momen perayaan ulangtahun pernikahan itu ke medsos. Nathan meyakini kalau alasannya karena mantan tunangannya.

“Dia masih suka chat-chat, video call dengan mantannya. Saya akhirnya juga memutuskan kembali berhubungan dengan mantan saya,” ungkapnya.

Pertengkaran terjadi. Nathan akhirnya memutuskan menggugat cerai Salma ke Pengadilan Agama (PA) Surabaya. Kini sedang dalam tahap persidangan. Keduanya juga meributkan harta bersama.

Yang Gugat Cerai Kebanyakan Istri

Angka perceraian di Surabaya meningkat setiap tahun. Selama Januari sampai Juni 2019 ada 2.013 istri yang menggugat cerai suaminya di PA. Jumlah ini jauh lebih banyak daripada suami yang menggugat cerai istrinya. Selama Januari sampai Juni ini sebanyak 883 suami yang menggugat cerai istrinya.

Penyebab perceraian yang paling dominan disidangkan di pengadilan adalah karena perselisihan hubungan suami istri akibat tuntutan biaya hidup. Sebanyak 70 persen di antaranya istri menggugat suami karena merasa tidak tahan diajak hidup susah. Terlebih tuntutan biaya hidup di Surabaya terbilang tinggi daripada kota lain.

“Karena Surabaya ini kan kota metropolis, biaya hidupnya cenderung tinggi,” tutur Humas PA Surabaya Agus Suntono.

Medsos Penyebab Perselingkuhan

Selain itu, alasan kedua yang menjadi penyebab perceraian adalah perselingkuhan. Salah satu pihak, baik suami atau istri merasa tidak bisa menerima kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya. Dia lalu menggugat cerai pasangannya.

Salah satu penyebab perselingkuhan adalah keberadaan media sosial (medsos). Salah satu dari pasangan berusaha mencari pelarian dengan bermain medsos untuk berhubungan dengan orang lain. Hubungan melalui medsos kemudian membuat pasangannya cemburu.

“Ada yang karena medsos. Itu masuk karena pihak ketiga,” ucapnya.

Humas DPC Peradi Surabaya Elok Dwi Kadja menyatakan, bahwa perkara perceraian karena medsos kini menjadi tren baru. Namun, jumlahnya tidak banyak. Medsos menurutnya menjadi media yang menjadi penyebab perselingkuhan dan prahara rumah tangga.

“Kebanyakan yang main medsos perempuan. Yang laki-laki cemburu. Medsos kan dari yang awalnya tidak pernah bertemu menjadi bertemu. Cinta lama bersemi kembali dengan mantannya,” ungkapnya.

Pasangan suami istri yang cerai karena medsos ini didominasi oleh pasangan usia muda yang masih produktif. Rata-rata usianya mulai 21 tahun sampai 35 tahun. Pasangan milenial yang lahir mulai 1980 memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menggugat cerai pasangannya karena medsos.

Happy Couple Jadi Panutan

Elok Dwi Kadja menyatakan bahwa perceraian karena medsos menjadi tren baru di Surabaya. Medsos menurutnya bisa menghubungkan kembali komunikasi yang telah terputus dengan orang lain di masa lalunya. Pasangannya kemudian merasa cemburu ketika mengetahui pasangannya berhubungan dengan orang lain di medsos.

Selain itu, kini orang yang sudah menikah cenderung menjadikan happy couple atau pasangan bahagia di medsos sebagai panutan. Dia menginginkan pernikahannya bahagia dan menuntut pasangannya agar seperti happy couple.

“Pasangannya tidak sesuai ekspektasi. Kenyataannya rumah tangga mereka tidak sebahagia happy couple. Mereka menjadikan happy couple di sosmed sebagai rule model rumah tangga. Padahal kondisi antara setiap pasangan jauh berbeda,” tutur Elok.

Edukasi Pernikahan

Dia berharap ada edukasi dari pihak terkait kepada calon pengantin maupun pasangan yang sudah menikah untuk menghindari perceraian. “Sehingga nanti ketika sudah menikah tidak kaget,” ucapnya.

Elok mencontohkan dirinya yang memiliki program married management untuk pasangan yang akan maupun yang baru menikah. Selain untuk edukasi, melalui program ini pasangan akan membuat perjanjian sebelum menikah.

“Mereka tandatangani dan dinotariskan. Sehingga sudah ada kesepakatan mengenai hak asuh anak, harta bersama sehingga nanti kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sudah siap semua dan tidak ribet,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here