“Perang Ketupat” Tradisi Tolak Bala Dari Bangka Belitung

0

Gaekon.com – Setiap orang menyikapi pandemi corona ini dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang hanya diam pasrah dengan keadaan. Tapi tak sedikit juga yang terus melawan virus ini dengan segala upaya. Mulai dari mengonsumsi ramuan jamu peningkat imun hingga melakukan tradisi-tradisi untuk menolak bala.

Seperti tradisi “Perang ketupat” dari Desa Tempilang, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Tradisi ini bertujuan untuk menolak bala dan hal-hal yang tidak diinginkan. Tradisi yang rutin digelar setiap tahun ini belum diketahui kapan pertama kali mulai dilakukan.

Melansir dari Jelajahbangka, peristiwa yang sampai saat ini masih teringat adalah ketika terjadi bencana dahsyat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Saat peristiwa besar itu terjadi, tradisi perang ketupat sudah ada dan rutin dilaksanakan.

Tradisi ini biasanya ada di bulan Ruwah atau bulan Sya’ban dalam penanggalan kalender Hijriyah. Setiap tanggal 15 Sya’ban atau minggu ketiga di bulan tersebut, biasanya dipilih menjadi waktu pelaksanaannya.

Perang Ketupat diawali dengan upacara penimbongan, yaitu ritual untuk memberi sesaji kepada roh-roh leluhur yang berjasa menjaga Kampung Tempilang. Selama upacara penimbongan, digelar tari campak, tari kedidi, dan tari seramo.

Prosesi selanjutnya adalah ngancak, yaitu ritual untuk memberi makan roh-roh laut di sekitar Kampung Tempilang, yang diimpin oleh dukun laut. Untuk memulai prosesi memanggil roh-roh, dukun laut membacakan mantra.

Ritual ngancak dilengkapi dengan sesaji untuk roh penunggu laut sekitar Tempilang. Sesaji itu merupakan makanan yang dipercaya sebagai hidangan kesukaan siluman buaya, penunggu laut sekitar Tempilang. Diantaranya terdiri dari nasi ketan, telur rebus, dan pisang rejang yang disebut buk pulot.

Setelah itu, keesokan harinya Perang Ketupat dimulai. Lagu Timang Burong (menimang burung) didendangkan lembut mengiringi Tari serimbang. Tarian ini menggambarkan kegembiraan sekumpulan burung siang menyambut kehadiran burung malam. Tarian itu juga merupakan sambutan bagi para tamu yang hendak menyaksikan upacara perang ketupat.

Dukun darat dan dukun laut bersatu merapal mantra di depan wadah yang berisi puluhan ketupat. Keduanya berdoa memohon supaya upacara dilancarkan dan wilayah Tempilang dijauhkan dari bencana.

Setelah mantra selesai dibacakan, salah satu dukun ada yang kerasukan. Hal ini dipercaya bahwa dukun tersebut sedang berkomunikasi dengan roh leluhur yang memang sengaja diundang untuk dimintakan restu, agar acara berjalan lancar.

Dukun yang sudah tersadar akan menyampaikan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan (pantangan) warga selama tiga hari. Jika ada yang melanggar pantangan tersebut, maka dipercaya akan mendapat musibah.

Para dukun menata puluhan ketupat di atas selembar tikar pandan. Dengan dibagi secara merata, ketupat itu diletakkan menghadap laut dan menghadap darat. Aturan dalam perang ketupat ini sendiri tidak boleh dilemparkan ke arah kepala, namun hanya ke arah badan saja.

Meski dinamai Perang namun tradisi ini tidak menumbuhkan kebencian. Semua dilakukan untuk bergembira bersama. Setelah saling melempar, mereka saling berjabat tangan, sehingga tidak ada permusuhan.

Perang Ketupat ini sendiri ditutup dengan upacara nganyot perae yang artinya menghanyutkan perahu mainan dari kayu ke laut. Nganyot perae merupakan simbol mengantar para leluhur kembali ke alamnya.

Perang ketupat mengandung nilai-nilai luhur seperti memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu tradisi ini juga sebagai sarana menjalin silaturahmi.

Setiap daerah memiliki tradisi menolak bala masing-masing yang tentunya berbeda. Namun meskipun berbeda, tujuannya sama, yaitu memohon perlindungan kepada Tuhan agar terhindar dari marabahaya.

KL For GAEKON