Refleksi Jumat Agung Ditengah Pandemi

0

Tahun ini, warga penganut agama Kristen/Katolik di Indonesia, terpaksa tidak dapat merayakan hari raya Jumat Agung atau yang biasa disebut Good Friday.

Tidak hanya itu, ibadah memperingati trilogi tiga hari suci sebelum peristiwa Paskah, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci pun hanya bisa dilakukan secara online ataupun streaming dari rumah.

Ini tak lepas dari sedang merebaknya wabah pandemi Corona di Indonesia. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan himbaunan dan pelarangan kegiatan peribadatan yang melibatkan banyak orang.

Namun, sangat disesalkan, masih saja ada segelintir pihak yang ngotot melanggar hal itu. Sosok Tuhan, dan keyakinan mereka akan perlindungan dan keselamatan, membuat golongan ini menaifkan pemerintahan dunia.

Ini sejatinya sebuah ironi. Kalau kita melihat peristiwa menjelang Paskah, adalah dimana ketika Yesus ditangkap oleh pemerintahan Ponsius Pilatus saat itu, hasil dari pengkhianat muridnya, Judas Iskariot.

Yesus, yang merupakan perwujudan Tuhan di dunia dalam bentuk manusia, tentunya memiliki segala hak, dan bahkan kuasa untuk melawan tuduhan yang ditudingkan kepada-Nya.

Bukanlah hal yang susah, untuk memporak-porandakan mereka yang menentang-Nya. Orang mati saja bisa dibangkitkan, apalagi hanya menggulingkan sebuah pemerintahan.

Namun, Yesus memilih jalan yang sama sekali tidak dipikirkan. Walaupun Dia tahu, bahwa apa yang bakal dialami adalah jalan yang sangat berat.

Hal ini terbukti, ketika Yesus berdoa di taman Gestemani sebelum ditangkap. Pada saat itu, didalam keadaan berdoa yang sedemikian khusuknya, Yesus sampai mengeluarkan keringat berupa darah.

Ini sebagai penanda, bahwa sisi ‘manusia’ dalam diri-Nya dalam segi fisik, sedang merasakan beban yang sangat berat.

Selanjutnya, adalah sejarah. Yesus diadili secara tidak adil oleh hukum dunia, dan akhirnya dijatuhi hukuman disalibkan, hukuman yang ditujukan kepada para penjahat yang hina.

Hukuman itu dimulai dari proses memanggul salib, yang dikenal dengan prosesi “Via Dolorosa”. Sepanjang jalan menuju ke bukit Golgota, lokasi penghakiman, Yesus sebagai Anak Allah menerima berbagai macam hal.

Mulai dari siksaan secara fisik, dicambuk, dipukul, diludahi dan lain sebagainya. Penghinaan pun diterima tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut-Nya untuk melawan.

Yesus rela menjalani itu semua, demi penebusan dosa atas manusia. Hingga akhirnya, Dia harus meregang nyawa dan meninggal di atas kayu salib, untuk menggenapi ‘tugas’-Nya di dunia.

Darah-Nya yang mahal, harus tertumpah di atas kayu salib, untuk menebus dosa kita, manusia yang hina ini.

Sejatinya, umat yang percaya pada Yesus, harus benar-benar mengerti, memahami, dan belajar dari peristiwa ini. Di saat Yesus rela menjalani hal yang tak selayaknya dialami, para manusia ini malah bersikap sombong dan congkak, berbalut pengetahuan dan keilmuan agama mereka.

Saling hujat, bahkan ngotot melawan anjuran pemerintah, adalah bentuk kesombongan mereka yang mengaku pandai dalam hal keagamaan.

Apalagi dalam saat seperti ini. Malah banyak mereka yang berasal dari golongan agama, yang malah menjadi penyebar wabah bagi lingkungannya.

Seperti yang terjadi di Korea Selatan saat salah satu gereja di sana malah menjadi penyebar wabah terbesar. Demikian juga di Indonesia, ketika sekelompok orang dari satu gereja di Jawa Barat, malah menjadi klaster baru penyebaran virus covid-19 ini.

Wahai para umat Tuhan, belajarlah dari teladan Yesus. Dia rela dihina dan dihukum bagi kita. Demi menebus dosa kita.

Jangan malah kita, manusia yang tak sempurna dan berdosa ini, malah berlaku seenaknya. Tidak menghiraukan anjuran pemerintah, dan congkak dengan iman yang dimiliki.

Jadilah serupa dengan sosok Yesus Kristus, agar sekitar kita dapat benar-benar menjadi terang, dan ‘garam’ lewat perbuatan kita, yang memberkati sesama.

Selamat hari Jumat Agung, Gaekoners.

 

W For GAEKON