PAGELARAN WAYANG SEHARUSNYA UNTUK SIAPA ?

0

Pagelaran wayang merupakan salah satu event yang pasti ada setiap tahunnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan pantauan tim gaekon salah satu Museum yang berada di tengah Kota yaitu Museum Sonobudoyo mengadakan pagelaran wayang tersebut setiap hari. Pagelaran Wayang pada umumnya digelar semalam suntuk. Sehingga pasti membutuhkan energi yang luar biasa.

Hal ini membuat sebagian penikmat wayang dirasa kurang efisien dan efektif. Menyadari hal tersebut, Museum Sonobudoyo membuat pertunjukan wayang dalam durasi yang lebih singkat , hanya sekitar 2 jam saja. Pagelaran wayang durasi singkat merupakan modifikasi pertunjukan wayang dengan durasi yang lebih pendek. Biasanya durasi pagelaran hanya selama 2 jam saja , berlangsung dari jam 20.00 – 22.00 WIB.

Pagelaran wayang durasi singkat ini merupakan satu – satunya di Indonesia yang masih tersisa. Dahulu , pada tahun 80’an ada beberapa pagelaran wayang serupa , tetapi akhirnya seleksi alam berlaku. Satu per satu berguguran dan hanya di Museum Sonobudoyo yang masih tersisa. Museum Sonobudoyo konsisten mengadakan pagelaran wayang ini di Pendopo Timur Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pagelaran wayang durasi singkat ini dibuka setiap hari , kecuali pada hari libur. Hari libur biasa , hari besar agama , maupun nasional. Dan di malam minggu tetap buka , tetapi untuk Hari Minggu malam tidak buka.

Kebanyakan pengunjung adalah wisatawan mancanegara. Ada sejumlah 20 hingga 40 orang pengunjung setiap harinya. Ada atau tidak ada pengunjung yang datang , pagelaran wayang berdurasi singkat tersebut tetap akan berjalan. Cukup hanya dengan membayar tiket masuk Rp. 20.000,00 Untuk setiap orang , pengunjung bisa puas menikmati pertunjukan wayang.

Tema yang diangkat setiap pagelaran selalu berbeda , dalang yang menjalankan ceritanyapun setiap harinya selalu berganti orang. Banyak berbagai cerita yang dibawakan mulai dari Trigangga Looks For His Father , The Death Of Kumbakarna , The Death Of Rahwana , The Abduction of Sintha , Hanoman Mission , Rama’s Dam , Anggada Mission dan The Death Of Prahastha. Banyak dan menariknya tema yang disuguhkan setiap hari ternyata belum berhasil menarik pengunjung lokal. Terbukti dari banyaknya pengunjung yang berdatangkan adalah wisatawan mancanegara.

Wisatawan lokal pada umumnya ketika bertamasya ke Yogyakarta tempat – tempat yang dikunjungi adalah tempat perbelanjaan saja. Tempat – tempat budaya , sejarah seperti museum jarang sekali untuk dikunjungi. Apalagi pagelaran wayang yang notabennya masih kental sekali dengan unsur budaya. Pagelaran wayang berdurasi singkat di Museum Sonobudoyo ini sama sekali tidak dilirik oleh wisatawan lokal.

Kursi yang diletakkan di kanan kiri pemain gamelan semuanya diisi oleh wisatawan mancanegara. Mereka lebih tertarik dengan pertunjukan seperti ini. Wisatawan mancanegara yang datang ke Yogyakarta selalu berkunjung ke tempat – tempat budaya , apalagi ketika melihat kerajinan wayang pasti langsung dibelinya.

Rasa penasaran wisatawan mancanegara dengan budaya Indonesia selalu membawa mereka datang berbondong- bondong mengunjungi tempat budaya dan menyaksikan pagelaran seni budaya. Hmm memangnya sobat gaekon mau dikalahkan sama wisatawan mancanegara ? Bukankah dengan mensupport , melihat pertunjukan pagelaran wayang adalah salah satu cara kita untuk melestarikan budaya bukan ? jelas iya. Sudah seharusnya kita sebagai Masyarakat Indonesia , sebagai tuan rumah , sebagai orang yang memiliki budaya – budaya tersebut harus lebih memberikan contoh yang baik dengan terus mengapresiasi pagelaran wayang di Indonesia.

Sebenarnya apa saja sih yang membuat wayang kurang menarik dikalangan anak muda ?

  1. Penonton wayang dari generasi muda cenderung bosan, karena pertunjukan wayang memakan waktu terlalu panjang serta pengemasan yang kurang menarik.
  2. Banyak yang tidak menguasai bahasa Jawa Kawi, yang mana anak muda sekarang tidak lagi mengerti bahasa tersebut. Sehingga memunculkan suatu keengganan untuk menonton karena tidak paham akan ceritanya.
  3. Butuh biaya hingga ratusan juta untuk mementaskan wayang kulit semalam suntuk.
  4. Masuknya berbagai kebudayaan luar melalui berbagai media, terutama televisi, tidak sedikit ikut mempengaruhi kelunturan apresiasi terhadap kesenian tradisional.

Di masa sekarang ataupun masa yang akan datang tanggungjawab untuk mengembangkan dan melestarikan warisan leluhur tersebut bukan lagi ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat, dalam hal ini mereka para pelaku seni, pecinta seni, pekerja seni dan pemerhati seni serta lainnya agar kesenian dan budaya tersebut tidak hilang atau musnah di telan zaman.

Terlebih lagi saat ini, budaya barat dan modernisasi merupakan konsumsi sehari-hari anak-anak muda. Akibatnya kesenian dan budaya sendiri dianggap tidak nge-trend dan terkesan kuno, sehingga generasi penerus tidak mau menggelutinya bahkan mereka sudah tidak lagi mengenal budaya sendiri.

Saat ini memang ada sebagian dari paguyuban wayang yang sedikit melakukan inovasi dalam pertunjukannya dengan menyelipkan musik campursari dan dangdut untuk menarik minat kaum muda dalam menonton Wayang. Pada awalnya memang banyak yang tertarik, namun, seiring dengan berjalannya waktu, upaya itupun kurang berhasil.

Mengingat hal tersebut kurang berhasil. Perlu Adanya Pertunjukan wayang yang berdurasi lebih pendek dan dimodifikasi semodern mungkin dengan memasukkan pesan atau informasi terkini. Agar dapat lebih menarik anak muda untuk melihat dan melestarikan kesenian tradisional wayang kulit.

Kaum muda harus segera bangkit untuk tetap melestarikan seni dan budaya yang merupakan warisan para leluhur yang dengan susah payah telah mempertahankannya Jangan sampai seni dan budaya bangsa Indonesia direbut oleh bangsa lain.

KL For GAEKON